PedomanBengkulu.com- Lebih dari dua pekan setelah hilang kontak, kondisi kapal motor (KM) Arupadhatu I yang mengangkut lima jurnalis yang hendak meliput aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) di Selat Sunda masih belum dapat terkonfirmasi.
Update terkini, satu jenazah tanpa identitas yang ditemukan di Pantai Desa Kahyapu, Pulau Enggano, Kabupaten Bengkulu Utara, pada 12 September 2026 lalu telah terkonfirmasi bernama Surakhman, salah satu anak buah kapal (ABK) KM Arupadhatu I.
Adapun KM Arupadhatu I yang dikabarkan hilang sejak Senin (7/9/2026) itu mengangkut lima jurnalis dan tiga kru kapal.
Dalam konferensi pers yang digelar pada Rabu (23/9/2026) siang ini, Kapolda Banten Irjen Pol Hengki mengaku belum bisa memberikan kepastian mengenai kondisi kapal naas tersebut.
Ia menyebut, belum bisa dikonfirmasi apakah kapal tersebut terbakar atau tenggelam, tetapi satu yang pasti adalah bahwa kapal tersebut hilang dan hingga kini masih belum ditemukan.
"Kepastian kapal itu tenggelam, terbakar, hilang, dan sebagainya, saya tidak bisa menjawab," kata Hengki, dikutip dari tayangan Breaking News di kanal YouTube KompasTV, Rabu.
"Yang pasti sampai sekarang, kapalnya kan tidak ada yang ditemukan. Yang kita samakan sekarang masih hilang kan."
"Belum ada kejelasan kapal itu ke mana. Apakah terbawa arus atau tenggelam ke dasar laut, saya tidak bisa menjawab itu."
Hengki juga melanjutkan, dirinya belum bisa mengonfirmasi keadaan korban-korban yang lain.
"Bagaimana korban-korban yang lain, saya belum bisa menjawab, korban-korban yang lain atau yang belum ditemukan," ucap Hengki.
"Kalau ternyata mereka mungkin selamat, terbawa ke luar negeri. Saya tidak menjawab. Saya belum tahu, saya hanya berdasarkan data-data yang kita temukan sekarang."
Jenazah Teridentifikasi Surakhman, Salah Satu ABK Kapal Hilang yang Angkut 5 Jurnalis Saat akan Liput Gunung Anak Krakatau
Sebelumnya, telah ditemukan satu jasad tanpa identitas di Pantai Desa Kahyapu, Pulau Enggano, Kabupaten Bengkulu Utara, pada Sabtu, 12 September 2026 atau sekitar lima hari setelah kapal dilaporkan hilang kontak.
Dalam konferensi pers pada Rabu (23/9/2026) hari ini, jasad tersebut telah berhasil diidentifikasi dan diketahui sebagai Surakhman yang merupakan salah satu ABK KM Arupadhatu I.
"Jenazah akan dikirim diberangkatkan besok dari Kabiddokkes Bengkulu menuju Bandara Soekarno Hatta (Soetta) dan akan diterima bersama Gubernur, Basarnas, dan tim terpadu menyambut kedatangan jenazah di Bandara Soetta," kata Hengki dalam konferensi pers, Rabu.
Namun, detail waktu keberangkatan jenazah belum dapat dipastikan.
"Besok kita tinggal liat jam, waktu masih dilakukan persiapan di Bengkulu," papar dia.
Adapun jenazah Surakhman berhasil teridentifikasi melalui hasil pemeriksaan DNA, yang ternyata cocok dengan DNA milik putra kandungnya yang bernama Yayat.
"Jenazah MR X tadi teridentifikasi sebagai Surakhman atau ABK kapal, ayah biologis dari Tuan Yayat, Tuan Yayat ini sebagai putra kandung dari Bapak Surakhman, ABK Kapal Arupadhatu I, yang meliput erupsi Anak Krakatau pada tanggal 7 September 2026," jelas Hengki.
Sebelumnya, sesosok jasad laki-laki tanpa identitas ditemukan terdampar di Pantai Desa Kahyapu, Kecamatan Enggano, Kabupaten Bengkulu Utara, Sabtu (12/9/2026).
Jasad tersebut, ditemukan sekitar pukul 17.30 WIB oleh seorang nelayan yang hendak melaut.
Kapolsek Enggano Iptu Khalid Wahyudi mengatakan, jasad laki-laki tersebut ditemukan dalam posisi terlentang di atas pasir pantai. Saat ditemukan, jasad tersebut hanya mengenakan celana pendek.
Rombongan Jurnalis Hilang di Selat Sunda
KM Arupadhatu I yang mengangkut lima jurnalis dan tiga awak kapal dilaporkan hilang kontak sejak Senin (7/9/2026) saat melakukan pelayaran untuk meliput aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK).
Berdasarkan data Kantor SAR Banten, kapal tersebut memuat delapan orang, yakni:
Warta (Kapten Kapal) berusia 55 tahun
Surakhman (ABK) 60 tahun
Heriyanto (Guide) 49 tahun
M Bagus Khoirunnas (jurnalis Antara)
Ari Basuki (jurnalis Merdeka)
Yudhis (jurnalis INews)
Daus (jurnalis Anadolu)
Donal (freelance)
Pencarian terhadap rombongan jurnalis tersebut dilakukan tim SAR gabungan. Namun pada 10 hari masa pencarian atau Kamis (17/9/2026) lalu, operasi SAR dinyatakan dihentikan.
Hal itu dilakukan usai tidak ditemukan tanda-tanda keberadaan kapal maupun rombongan jurnalis dimaksud di seluruh sektor penyisiran.
Sumber: Trubunnews.com