PedomanBengkulu.com- Jenazah yang ditemukan di Pulau Enggano, Bengkulu, telah teridentifikasi sebagai Surakman (60), anak buah kapal (ABK) yang sebelumnya hilang kontak.
Surakman hilang kontak bersama lima jurnalis dan dua kru lainnya di perairan Selat Sunda.
Jenazah Surakman dijadwalkan diterbangkan dari Bengkulu menuju Jakarta pada Kamis (24/9/2026) pagi.
Jenazah Surakman juga dijadwalkan tiba di Bandara Soekarno Hatta pada Kamis pagi.
Gubernur Banten Andra Soni mengatakan setelah tiba di Bandara Soekarno Hatta, jenazah Surakman akan menjalani proses pengurusan sebelum dibawa ke kampung halaman.
Selanjutnya, jenazah Surakman akan disalatkan dan dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Ki Demang, Carita, Pandeglang, Banten.
"Besok pagi (hari ini) sekitar jam 07.20 menggunakan Batik Air itu akan landing di Soekarno-Hatta dan kita bersama-sama akan melakukan pengurusan."
"Kemudian nanti akan langsung dibawa ke kampung halaman dan disalatkan, kemudian nanti dimakamkan," kata Andra, Rabu (23/9/2026) malam, Keluarga Mengaku Ikhlas
Anak Surakman, Yayat Suryadi, mengaku ikhlas menerima kepergian ayahnya.
Meski berat kehilangan sang ayah, Yayat mengatakan dirinya berusaha menerima keadaan tersebut.
"Kalau perasaan saya sebagai anak sedih, namanya juga kehilangan orang tua. Tapi kita kembali lagi ke takdir, kita juga mau ke mana lagi," ucap Yayat, Rabu.
Ia meyakini ayahnya telah mendapat tempat terbaik setelah selama ini bekerja mencari nafkah untuk keluarga.
"Saya yakin Bapak sudah di Surga. Dia mencari kerja, mencari nafkah. Saya ikhlas, mungkin ini yang terbaik dari Allah," kata Yayat dengan mata berkaca-kaca.
Sementara itu, tiga kru kapal terdiri atas Warta (55) selaku kapten kapal, Surakman (60) sebagai ABK, dan Heriyanto (49) selaku pemandu perjalanan.
Operasi SAR gabungan untuk mencari delapan orang yang hilang bersama speedboat Arupadhatu 1 di sekitar Gunung Anak Krakatau resmi dihentikan pada Kamis (17/9/2026).
Hingga operasi berakhir, tim SAR belum menemukan tanda-tanda keberadaan kapal maupun delapan orang yang berada di dalamnya.
Namun, jenazah seorang laki-laki sempat ditemukan di perairan Desa Kahyapu, Kecamatan Enggano, Kabupaten Bengkulu Utara.
Jenazah tersebut pertama kali ditemukan seorang nelayan yang sedang mencari ikan pada Sabtu (12/9/2026) sore.
Camat Enggano, Yopi Pardiansyah, mengatakan saat ditemukan, jenazah berada di tengah laut dan tersangkut di atas karang.
Kondisi air laut yang mengalami pasang surut membuat jenazah berada di sekitar kawasan karang.
"Yang menemukan jenazah pertama kali adalah nelayan yang sedang mencari ikan, Sabtu (12/9/2026) sore. Posisi jenazah di tengah laut, nyangkut di atas karang," kata Yopi, Rabu,
Nelayan tersebut kemudian mengikat jenazah menggunakan tali pada sebuah pancang kayu agar tidak terbawa arus.
Setelah kembali ke permukiman, temuan tersebut dilaporkan kepada pihak terkait.
Pemerintah Kecamatan Enggano kemudian berkoordinasi dengan Polsek Enggano, Koramil, Basarnas, serta pemerintah desa untuk melakukan proses evakuasi.
Tim gabungan selanjutnya berangkat menuju lokasi menggunakan dua perahu berdasarkan titik keberadaan jenazah yang disampaikan nelayan.
Namun, proses pencarian dan evakuasi menghadapi kendala karena dilakukan pada malam hari.
Tim akhirnya berhasil menemukan jenazah sekitar pukul 21.00 WIB.
Namun, proses pencarian dan evakuasi menghadapi kendala karena dilakukan pada malam hari.
Tim akhirnya berhasil menemukan jenazah sekitar pukul 21.00 WIB.
Setelah berhasil dievakuasi, jenazah dimasukkan ke dalam kantong jenazah.
Namun, kondisi jenazah yang mulai membusuk menjadi pertimbangan lain bagi tim. Terlebih, di Pulau Enggano tidak tersedia fasilitas penyimpanan jenazah.
Atas kondisi tersebut, jenazah kemudian dibawa ke daratan dan dimakamkan sementara di kawasan pantai sekitar mangrove Desa Kahyapu. Pemakaman sementara dilakukan sekitar pukul 23.00 WIB.
Teridentifikasi Lewat Pencocokan DNA
Kepastian identitas korban diperoleh setelah tim DVI Pusdokkes Polri melakukan pemeriksaan dan pencocokan DNA terhadap jenazah yang sebelumnya ditemukan warga setempat.
Kepala Bidang Humas Polda Banten Kombes Pol. Maruli Ahiles Hutapea mengatakan identitas jenazah tersebut akan dipastikan melalui proses pencocokan DNA oleh petugas.
Berdasarkan pantauan wartawan TribunBanten.com, barang bukti yang tampilkan berupa lembaran kertas foto Surakman serta peta jarak dari Gunung Anak Krakatau hingga Desa Kahyapu, Kecamatan Enggano, Kabupaten Bengkulu Utara sepanjang 347,27 KM.
"Jenazah ditemukan di Pulau Enggano, pada Sabtu 12 September lalu. Hari itu bertepatan dengan hari kelima saat pencarian seluruh korban dilakukan," katanya, Rabu (23/9/2026),
"Setelah itu dilakukan otopsi meliputi gigi dan sejumlah lainnya, ditemukan masyarakat Pulau Enggano, saat itu warga tidak merasa ada yang kelihatan keluarganya, sehingga jenazah sempat dikubur," ujarnya.
Identitas korban kemudian diketahui melalui proses pemeriksaan dan pencocokan DNA. Setelah itu, jenazah kembali digali dari makamnya.
Jenazah tersebut diduga merupakan Surakman, warga Carita, Kabupaten Pandeglang, yang sebelumnya dinyatakan hilang bersama lima jurnalis.
"Untuk barang buktinya hanya jenazahnya saja, jenazah rencananya besok (hari ini) akan dibawa ke Banten," imbuhnya.
Sementara itu, Kapolda Banten Irjen Pol. Hengki mengatakan hasil pemeriksaan DNA menunjukkan adanya kecocokan secara genetik antara jenazah dengan keluarga biologisnya.
Surakman diketahui merupakan ayah biologis Yayan.
Identifikasi tersebut diperoleh melalui pemeriksaan dan pencocokan profil DNA yang dilakukan tim DVI Pusdokkes Polri.
Dengan hasil identifikasi tersebut, kepolisian dapat memastikan bahwa jenazah yang sebelumnya berstatus Mr. X tersebut merupakan Surakman, sekaligus memberikan kepastian mengenai identitas korban kepada pihak keluarga.
"Berdasarkan hasil pemeriksaan DNA operasi DVI Pusdokkes Polri terhadap seorang mayat Mr. X yang ditemukan di Pulau Enggano, Bengkulu, secara genetik teridentifikasi sebagai Surakman atau ABK kapal," jelas Hengki.
Sumber: Tribunnews.com