PedomanBengkulu.com, Jakarta- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih berada dalam tren pelemahan sepanjang 2026. Kondisi tersebut turut menekan sejumlah saham berkapitalisasi besar, termasuk konstituen LQ45.
Melansir Bursa Efek Indonesia (BEI), LQ45 adalah indeks yang mengukur kinerja harga 45 saham dengan likuiditas tinggi, kapitalisasi pasar free float besar, serta didukung fundamental dan kepatuhan perusahaan yang baik.
Di tengah tekanan pasar, valuasi menjadi salah satu indikator yang dapat digunakan untuk melihat apakah harga saham relatif rendah terhadap kinerja fundamentalnya. Saham dengan harga per lembar yang rendah belum tentu undervalued.
Untuk melihat valuasi, investor dapat menggunakan Price to Earnings Ratio (PER), yang membandingkan harga saham dengan laba. Serta Price to Book Value (PBV), yang membandingkan harga saham dengan nilai bukunya.
Daftar saham LQ45 yang undervalued
Berdasarkan IDX Company Fact Sheet LQ45 February-July 2026, terdapat lima saham LQ45 yang memiliki PER di bawah rata-rata pasar 15,64 kali dan PBV di bawah 1 kali. Rasio tersebut dapat menjadi indikator awal untuk menyaring saham dengan valuasi relatif rendah, tetapi tidak otomatis menunjukkan saham tersebut undervalued.
1. AADI
Berdasarkan IDX Company Fact Sheet LQ45 February–July 2026, Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) memiliki PER 4,52 kali dan PBV 0,93 kali. PER tersebut berada di bawah rata-rata sektor energi sebesar 18,14 kali dan juga di bawah rata-rata pasar 15,64 kali.
AADI mencatat ROE 20,69 persen, tertinggi di antara lima saham dalam daftar ini. Berdasarkan data per 30 September 2025, perusahaan membukukan laba bersih Rp10,93 triliun dengan pendapatan Rp60,24 triliun.
2. ADRO
Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) tercatat memiliki PER 6,89 kali dan PBV 0,75 kali. Kedua indikator tersebut berada di bawah angka yang digunakan sebagai pembanding dalam data sektor energi.
Perusahaan mencatat ROE 10,95 persen dan ROA 8,56 persen. Pada periode yang sama, ADRO membukukan laba bersih Rp5,55 triliun dari pendapatan Rp22,50 triliun. Rasio debt to equity ratio (DER) tercatat 0,28 kali.
3. ASII
Astra International Tbk (ASII) memiliki PER 7,87 kali dan PBV 0,89 kali. PER ASII berada di bawah rata-rata sektor industrials sebesar 14,39 kali dan rata-rata pasar 15,64 kali.
Data IDX Company Fact Sheet mencatat ROE ASII sebesar 11,28 persen. Perusahaan juga membukukan laba bersih Rp30,11 triliun dengan pendapatan Rp243,61 triliun pada periode yang digunakan dalam data tersebut.
4. BBNI
Sesuai IDX Company Fact Sheet LQ45 February–July 2026, Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) mencatat PER 8,26 kali dan PBV 0,98 kali. Dengan PBV masih di bawah 1 kali, harga saham berada di bawah nilai buku berdasarkan indikator tersebut.
PER BBNI juga berada di bawah rata-rata sektor keuangan sebesar 13,84 kali. Dari sisi profitabilitas, BBNI mencatat ROE 11,81 persen dan laba bersih Rp15,23 triliun pada periode per 30 September 2025.
5. BBTN
Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) tercatat memiliki PER 5,35 kali dan PBV 0,50 kali. Angka tersebut menunjukkan harga saham berada di bawah nilai buku perusahaan berdasarkan indikator PBV.
Dari sisi profitabilitas, BBTN mencatat return on equity (ROE) 9,31 persen. Dalam data per 30 September 2025, perusahaan membukukan laba bersih Rp2,30 triliun dengan total aset Rp510,86 triliun.
Perbedaan valuasi dalam LQ45
Masuknya suatu saham ke dalam indeks LQ45 tidak otomatis berarti saham tersebut memiliki valuasi rendah. Data IDX Company Fact Sheet juga menunjukkan adanya perbedaan rasio valuasi yang cukup lebar antar-konstituen.
Sebagai pembanding, Barito Renewables Energy Tbk (BREN) tercatat memiliki PER 465,77 kali dan PBV 79,17 kali dalam data yang digunakan. Sementara itu, saham seperti BMRI dan BBRI memiliki PER masing-masing 8,74 kali dan 10,34 kali, tetapi PBV-nya sudah berada di atas 1 kali.
Dengan demikian, daftar saham LQ45 yang undervalued dalam artikel ini merujuk pada penyaringan berdasarkan PER dan PBV, bukan penilaian bahwa harga saham tersebut pasti akan naik. Investor tetap perlu melihat kinerja laba, profitabilitas, struktur utang, serta kondisi sektor masing-masing emiten ketika membaca data valuasi.
Sumber: www.fortuneidn.com