Menteri Pendidikan
Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti mengungkap data itu di Jakarta, Senin (20/7).
Berdasarkan Data Pokok Pendidikan per 30 Juni 2025 dan Rapor Pendidikan 2025,
hanya 263 dari 7.288 kecamatan yang memiliki SMP dan SMA berkategori baik.
Sekitar 96 persen kecamatan lainnya belum memilikinya.
Mengurai Jurang
Kesenjangan Mutu di Daerah
Untuk menutup
jurang kesenjangan pendidikan di daerah, pemerintah menerbitkan Instruksi
Presiden Nomor 10 Tahun 2026 tentang Percepatan Peningkatan Mutu Pendidikan
melalui Program Sekolah Nasional Terintegrasi, atau yang disingkat SNT.
Instruksi ini menargetkan pembangunan 500 layanan SNT secara bertahap hingga
2029, dengan 37 lokasi mulai disiapkan tahun ini.
Dari 37 lokasi itu,
17 akan mulai beroperasi pada Tahun Ajaran 2026/2027, sementara 20 lainnya
memasuki tahap pembangunan dan menerima murid pertama pada 2027. Semua ini
menjalankan amanat Pasal 5 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional, bahwa setiap warga negara berhak atas pendidikan bermutu,
di mana pun ia tinggal.
SNT bukan pemain
tunggal. Ia melengkapi Sekolah Rakyat yang berfokus pada anak dari keluarga
kurang mampu, dan Sekolah Garuda yang menyiapkan talenta unggul untuk bersaing
di panggung global. Tugas SNT lebih spesifik yaitu menjembatani kesenjangan
mutu pendidikan antarwilayah yang selama ini menahan langkah anak-anak di
daerah terpencil.
Yang membedakan SNT
dari sekolah unggulan biasa adalah tujuannya. Sekolah ini dirancang menjadi
pusat pengimbasan mutu bagi sekolah-sekolah di sekitarnya, lewat laboratorium
bersama, pelatihan guru, dan berbagi praktik baik, bukan sekadar mencetak
lulusan terbaik untuk dirinya sendiri.
Mendikdasmen
menegaskan keberhasilan SNT nantinya tidak hanya diukur dari nilai murid di
dalamnya. Keberhasilan itu juga dilihat dari makin banyaknya guru sekitar yang
berkembang, dan makin banyak sekolah lain yang ikut membaik karena satu sekolah
bermutu hadir di dekat mereka.
Transformasi SNT
untuk Pemerataan Kualitas
Urgensi SNT ini
bukan tanpa dasar. Ekonom pendidikan misalnya Lant Pritchett, lewat riset RISE
Programme (2016), pernah menghitung bahwa dengan laju perbaikan literasi
seperti sekarang, siswa Indonesia butuh waktu hingga 128 tahun untuk menyamai
rata-rata capaian negara maju.
Belum lagi skor
PISA dari OECD tahun 2023 memperkuat peringatan itu yang menunjukkan
kekhawatiran. Literasi, numerasi, dan sains siswa Indonesia masih tertinggal
jauh dari rata-rata global, sementara data BPS menunjukkan rata-rata lama
sekolah penduduk Indonesia masih bertahan di kisaran sembilan tahun, setara
lulusan SMP, meski harapan lama sekolah anak-anak sekarang sudah di atas 13
tahun.
Bank Dunia menyebut
jarak antara harapan dan kenyataan ini sebagai learning poverty, yaitu
ketika anak bersekolah bertahun-tahun tapi belum mampu membaca dan memahami
informasi sederhana sesuai usianya. Maka kehadiran SNT untuk memutus pola itu
sejak jenjang SMP dan SMA.
Taruhannya bukan
cuma soal ijazah formalitas. Ekonom Gary Becker sejak 1993 menunjukkan
investasi pendidikan langsung mendongkrak produktivitas seseorang, yang pada
gilirannya menggerakkan ekonomi sebuah negara.
Peneliti Eric
Hanushek dan Ludger Woessmann menemukan hal yang lebih tajam. Mereka
menjelaskan bahwa kualitas belajar jauh lebih menentukan pertumbuhan ekonomi
dibanding sekadar lama sekolah. Emil Salim dan mantan Wakil Presiden Boediono
pun sepakat, masa depan Indonesia bergantung pada kualitas manusianya, bukan
hanya kekayaan sumber daya alam semata yang melimpah tapi tidak diimbangi oleh
kualitas SDM.
Deputi III Kantor
Staf Presiden Yan Hiksas juga menyampaikan pandangan senada saat peluncuran
program ini. Menurutnya, Indonesia ke depan akan bersaing lewat sumber daya
manusia yang kreatif dan inovatif, dan SNT merupakan salah satu jalan generasi
itu disiapkan.
Di dalam SNT, ada tiga
transformasi berjalan sekaligus yang menjadi persoalan esensial pendidikan
untuk diperbaiki. Yaitu infrastruktur, sumber daya manusia, serta karakter dan
pembelajaran. Fasilitasnya lengkap, dari laboratorium sains dan komputer hingga
perpustakaan digital, studio seni, dan pusat olahraga, semuanya dirancang di
atas lahan hingga 30 hektare.
Kurikulum yang
digunakan berlapis tiga untuk menunjang peningkatan kualitas pembangunan di
daerah. Yaitu kurikulum nasional sebagai fondasi, kurikulum kekhasan sekolah
sesuai potensi daerah sebagai penguat, dan kurikulum berbasis konteks lokal
sebagai pengaya. Pendekatannya STEAMS, gabungan sains, teknologi, rekayasa,
seni, dan olahraga, dipadukan dengan pembelajaran mendalam.
Guru yang menjadi
pengajar tidak sembarangan direkrut. Minimal mereka berpendidikan S1,
diutamakan S2 atau S3, dan wajib mengikuti pelatihan 2,5 bulan sebelum
mengajar, termasuk magang di sekolah lain. Sekolah ini memiliki Teaching and
Learning Center sendiri sebagai pusat pengembangan guru yang berkelanjutan.
Di luar kelas, dua
kegiatan wajib diikuti semua murid SNT yaitu Pramuka dan pencak silat. Pilihan
ini terasa sederhana, tapi menegaskan satu hal, bahwa sekolah berstandar dunia
ini tetap berpijak pada akar budaya karakter Indonesia, bukan sekadar meniru
model pendidikan luar negeri.
Semua proses ini
terbuka untuk publik yang bisa diawasi bersama. Transparansi Informasi resmi
SNT bisa diakses lewat situs snt.kemendikdasmen.go.id, dan Kemendikdasmen juga
sudah mengingatkan bahwa tidak ada pihak mana pun yang bisa menjanjikan
kelulusan di luar jalur resmi.
Penerimaan murid
baru berlangsung transparan dan inklusif, diprioritaskan bagi anak-anak di
kabupaten/kota tempat SNT berada, berbasis prestasi akademik maupun
non-akademik. Setelah dinyatakan lolos, murid baru akan mengikuti Masa
Pengenalan Lingkungan Sekolah pada 10 Agustus 2026, mengikuti semangat MPLS
Ramah yang kini berlaku di seluruh Indonesia.
Sekolah bermutu
yang dulu terasa jauh kini coba didekatkan ke rumah anak-anak di 37 titik
seluruh penjuru negeri ini. Jika SNT ini berjalan sesuai rencana, bukan hanya
500 sekolah yang akan berubah, tapi ribuan sekolah di sekitarnya yang ikut
terangkat bersamanya.