PedomanBengkulu.com, Jakarta — Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia Hj Leni Haryati John Latief menyatakan dukungannya terhadap berbagai langkah yang dilakukan Pemerintah Provinsi Bengkulu dalam mengatasi persoalan kelautan dan pesisir yang masih menjadi tantangan di daerah berjulukan Bumi Merah Putih tersebut.
Pernyataan itu disampaikan bertepatan dengan peringatan Hari Laut Sedunia 2026 pada Senin (8/6/2026) yang mengusung tema global "Reimagine: Beyond the World We Know, a New Relationship with Our Ocean" yang mengajak masyarakat dunia untuk membangun hubungan baru dengan laut sebagai ekosistem yang harus dijaga keberlanjutannya, bukan semata-mata sebagai sumber eksploitasi ekonomi.
"Laut merupakan masa depan Bengkulu. Karena itu, seluruh upaya pemerintah daerah untuk menjaga ekosistem laut, melindungi nelayan, mengatasi abrasi, serta mengurangi pencemaran harus mendapat dukungan bersama," kata Hj Leni Haryati John Latief.
Lulusan Magister Administrasi Publik Universitas Bengkulu ini menjelaskan, kondisi laut Indonesia saat ini menghadapi tantangan serius. Meski memiliki luas perairan mencapai 5,8 juta kilometer persegi dan menjadi pusat Segitiga Terumbu Karang dunia dengan sekitar 76 persen spesies terumbu karang global, kesehatan ekosistem laut nasional masih memerlukan perhatian besar.
Berbagai persoalan seperti pencemaran sampah plastik, praktik penangkapan ikan berlebih, kerusakan terumbu karang, hingga dampak perubahan iklim dinilai menjadi ancaman nyata terhadap keberlanjutan sumber daya kelautan.
Di Bengkulu, tantangan tersebut diperparah oleh karakteristik wilayah yang berbatasan langsung dengan Samudra Hindia. Mulai dari gelombang tinggi yang berdampak pada aktivitas nelayan tradisional, ancaman abrasi di sejumlah kawasan pesisir akibat hantaman gelombang laut, hingga pencemaran dari aliran sungai dan sampah plastik masih menjadi persoalan yang perlu ditangani secara berkelanjutan.
Senator Leni John Latief menilai langkah Pemerintah Provinsi Bengkulu dalam memperkuat perlindungan wilayah pesisir dan memberdayakan masyarakat nelayan sudah berada pada arah yang tepat.
Ketua Badan Koordinasi Majelis Taklim Masjid Dewan Masjid Indonesia (BKMM-DMI) Provinsi Bengkulu ini menyebut program pengembangan kawasan pesisir, penguatan ekonomi nelayan, penanganan abrasi, hingga dukungan terhadap program Kampung Nelayan Modern atau Kampung Nelayan Merah Putih perlu terus diperluas agar manfaatnya dirasakan langsung oleh masyarakat.
"Kita mendukung berbagai program yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan nelayan sekaligus menjaga keberlanjutan sumber daya laut. Pembangunan sektor kelautan tidak boleh hanya berorientasi ekonomi, tetapi juga harus memastikan ekosistem laut tetap terjaga untuk generasi mendatang," ujar Hj Leni Haryati John Latief.
Pembina Bundo Kanduang Provinsi Bengkulu ini juga mendorong penguatan kawasan konservasi perairan, rehabilitasi mangrove, edukasi lingkungan kepada masyarakat pesisir, serta gerakan pengurangan sampah plastik yang melibatkan pemerintah daerah, dunia usaha, dan komunitas masyarakat.
"Melindungi laut berarti melindungi kehidupan masyarakat pesisir. Bengkulu memiliki potensi perikanan yang besar, mulai dari tuna, tongkol, cakalang hingga komoditas lainnya. Potensi ini harus dijaga melalui pengelolaan yang berkelanjutan dan berpihak kepada nelayan," ungkap Hj Leni Haryati John Latief.
Ia berharap sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, akademisi, komunitas lingkungan, dan masyarakat pesisir dapat terus diperkuat untuk mewujudkan laut Bengkulu yang sehat, produktif, dan berkelanjutan.
"Peringatan Hari Laut Sedunia menjadi pengingat bahwa masa depan daerah pesisir, termasuk Bengkulu, sangat ditentukan oleh bagaimana kita menjaga laut hari ini," tutup Hj Leni Haryati John Latief. [**]
