Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia Hj Leni Haryati John Latief mengatakan, tema penguatan layanan terpadu dan pemberdayaan masyarakat yang diusung di berbagai daerah mencerminkan kebutuhan riil untuk menggeser paradigma Posyandu dari sekadar tempat penimbangan balita menjadi simpul layanan kesehatan komunitas, mulai dari ibu hamil, bayi, remaja, hingga lansia.
"Di Bengkulu, Posyandu memperlihatkan fondasi kuat untuk pelayanan kesehatan berbasis masyarakat. Dengan 2.053 unit yang tersebar di seluruh wilayah hingga 2025 dan tingkat keaktifan yang mencapai 94,7 persen menunjukkan komitmen kader dan dukungan pemerintah daerah yang patut diapresiasi," kata Hj Leni Haryati John Latief, Rabu (29/4/2026).
"Namun, angka tersebut belum cukup untuk memenuhi rasio ideal pelayanan. Kekurangan lebih dari seribu unit Posyandu menjadi pengingat bahwa akses kesehatan yang merata masih menjadi pekerjaan rumah besar," lanjut Hj Leni Haryati John Latief.
Lulusan Magister Administrasi Publik Universitas Bengkulu ini menjelaskan, transformasi layanan primer yang kini berjalan di Bengkulu patut dicatat sebagai langkah progresif dimana Posyandu tidak lagi berdiri sendiri, melainkan terintegrasi dengan Posbindu Penyakit Tidak Menular untuk mendeteksi dini hipertensi dan diabetes.
"Intervensi seperti pemberian makanan tambahan bagi kelompok rentan menunjukkan bahwa Posyandu tetap relevan dalam menjawab persoalan gizi masyarakat. Hasilnya mulai terlihat. Penurunan angka stunting dari 19,8 persen pada 2023 menjadi 18,8 persen di 2024 memberi harapan bahwa intervensi berbasis komunitas ini efektif," ungkap Hj Leni Haryati John Latief.
Ketua Badan Koordinasi Majelis Taklim Masjid Dewan Masjid Indonesia (BKMM-DMI) Provinsi Bengkulu ini menekankan, keberhasilan ini tidak boleh meninabobokan.
"Tantangan masih ada, terutama pada aspek sumber daya manusia dan partisipasi masyarakat. Pelatihan kader memang terus dilakukan, tetapi kualitas dan keberlanjutan pendampingan menjadi kunci. Di sisi lain, fluktuasi kehadiran masyarakat di Posyandu menandakan bahwa kesadaran akan pentingnya layanan ini belum sepenuhnya mengakar," tutur Hj Leni Haryati John Latief.
Pembina Forum Melayu Rembuk Bengkulu ini menambahkan, Hari Posyandu Nasional menjadi titik refleksi sekaligus dorongan untuk mempercepat transformasi.
"Pemerintah perlu memastikan pemerataan jumlah dan kualitas Posyandu, sementara masyarakat didorong untuk kembali menjadikan Posyandu sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Di tengah tantangan sistem kesehatan yang kompleks, Posyandu tetap menjadi solusi sederhana namun berdampak besar, asal dikelola dengan serius dan didukung bersama," demikian Hj Leni Haryati John Latief. [**]
