PedomanBengkulu.com, Lebong - Libur lebaran Idul Fitri 1447 Hijriah mencatatkan peningkatan jumlah pengunjung ke objek wisata alam Air Putih di Desa Tambang Saweak, Kecamatan Pinang Belapis, Lebong, mencapai sekitar 27 ribu orang. Angka ini meningkat signifikan jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
Serbuan pengunjung itu tak lepas dari gerak cepat pengelola wisata. Pasalnya, hanya dalam kurun waktu kurang dua bulan sejumlah fasilitas di lokasi bisa kembali berfungsi.
Meski belum maksimal, di lebaran kali ini pengunjung sudah bisa menggunakan WC, kamar bilas, dan tempat ibadah yang tersedia. Termasuk perbaikan akses jalan masuk lalu kolam pemandian air panas yang sebelumnya kering dan kotor.
"Yang tak kalah penting adalah membereskan sampah. Saat kami masuk, sampah luar biasa. Selain mengganggu pemandangan, juga mengeluarkan aroma tak sedap," ujar Dedy ADS, pengelola wisata alam Air Putih.
Pria yang kerap disapa Dedi Dung ini mengakui sampah merupakan persoalan klasik di kawasan wisata. Karena itu lebaran kali ini menjadi momen baginya untuk mengevaluasi dan mencari cara untuk mengatasinya di masa mendatang.
"Ke depan, kami akan siagakan petugas. Minimal dua orang. Mereka secara khusus akan memungut sampah yang dibuang sembarangan. Pokoknya, tidak boleh ada sampah berserakan," tegas Dedi Dung.
Yang tak kalah menarik, di lebaran kali ini, Dedi Dung juga melibatkan penyandang disabilitas untuk mengatasi sampah pengunjung. Didukung kendaraan bermotor roda tiga, puluhan kilogram sampah yang telah dihimpun ke dalam karung dibuang ke TPA yang berlokasi di Desa Air Kopras atau sekitar 4 km dari lokasi wisata Air Putih.
"Kalau kemarin, memang pembuangan sampah dilakukan pagi. Jadi, kalau ada pengunjung yang kritik soal sampah, boleh jadi karena dia datang sore atau siang. Kalau masuknya pagi, pasti beda cerita," ujar Dedi Dung.
Berdasarkan pantauan dilapangan, petugas kebersihan di lokasi ini sudah bekerja sejak pukul 5.30 WIB. Mereka adalah kaum perempuan yang direkrut dari desa terdekat. Jumlahnya lima orang. Selain menyapu dedaunan, mereka juga memilah sampah plastik dan kardus. Sampah non-organik itu lalu dijual ke pengepul barang bekas.
Sebenarnya, tambah Dedi Dung, wadah penampung sampah dari karung sudah disediakan di sejumlah titik. Termasuk di areal Lubuk Adam yang menjadi lokasi paling ramai didatangi oleh pengunjung. Sayangnya, wadah sampah tersebut kerap hanyut saat debit air meningkat.
"Makanya, tidak kami sediakan lagi. Sering hanyut. Ke depan, kami akan standby-kan petugas. Saat pengunjung buang sampah tidak pada tempatnya, akan langsung dipungut," tegasnya.
Lebih jauh, Dedi Dung mengapresiasi semua pihak yang memberi perhatian, kritik, dan saran kepada pengurus atau pengelola wisata, khususnya Air Putih. Ia menilai, semua kritik dan saran itu mencerminkan kepedulian terhadap kemajuan wisata Lebong.
"Saya juga membuka diri untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman. Tapi jangan menghujat atau asal bicara tanpa konfirmasi dan memahami secara baik persoalan di lapangan," tandasnya.[red]