Tujuh puluh sembilan tahun lalu, Indonesia berdiri di atas pengorbanan luar biasa para pejuang. Mereka merelakan harta, meninggalkan keluarga, menghabiskan air mata, bahkan menumpahkan darah demi kemerdekaan negeri ini. Kemerdekaan yang kita nikmati hari ini adalah amanah suci, yang seharusnya kita isi dengan kegiatan yang bermartabat, bermanfaat, dan menghidupkan nilai-nilai keimanan.
Sayangnya, perayaan kemerdekaan kita kini kerap ternodai oleh tradisi yang jauh dari semangat perjuangan. Di banyak tempat, malam kemerdekaan diisi dengan permainan kartu yang biasa dipakai untuk perjudian, pengumbaran aurat, joget dengan nyanyian cabul, dan hura-hura hingga larut malam. Ironisnya, dalam gegap gempita itu, sholat sering ditinggalkan. Apakah ini cara terbaik menghormati pengorbanan para pahlawan?
Kita harus berani mengakui: generasi Indonesia sedang menghadapi darurat moral. Darurat maksiat. Darurat meninggalkan sholat. Darurat zina. Fenomena ini bukan sekadar statistik suram, tapi sinyal keras bahwa bangsa ini butuh arah baru. Arah yang mengembalikan kita pada nilai-nilai luhur agama dan kebangsaan.
Sudah saatnya perayaan HUT Kemerdekaan menjadi momentum revolusi akhlak. Kegiatan-kegiatan yang kreatif, menarik, menghibur, tapi tetap bernuansa religi harus menjadi pilihan utama. Lomba azan, festival shalawat, pawai busana muslim bertema merah putih, tabligh akbar, dan doa bersama untuk negeri adalah contoh bahwa kemeriahan bisa berjalan seiring dengan ketakwaan.
Perayaan yang bernuansa religi tidak berarti membosankan. Justru di sanalah kita mengajarkan generasi muda bahwa kegembiraan sejati adalah ketika hati dekat dengan Allah ta'ala. Bahwa hormat kepada pahlawan bukan hanya dengan sorak-sorai, tetapi juga dengan meneladani semangat pengorbanan mereka melalui ibadah, kesopanan, dan persatuan.
Kepada Presiden Republik Indonesia, Bapak Prabowo Subianto, kami memohon: jadikan HUT Kemerdekaan ke-80 nanti sebagai tonggak Revolusi Akhlak Bangsa. Gerakkan seluruh elemen—pemerintah, ormas, sekolah, dan masyarakat—untuk merayakan kemerdekaan dengan cara yang memuliakan bangsa dan diridhai Allah.
Kemerdekaan ini bukan sekadar bebas dari penjajahan, tetapi juga bebas dari belenggu maksiat. Mari isi kemerdekaan dengan iman, takwa, dan akhlak mulia. Sebab, hanya dengan itu, Indonesia akan benar-benar merdeka—di dunia dan di akhirat.
