Sticky

FALSE

Page Nav

HIDE

GRID

GRID_STYLE

Hover

TRUE

Hover Effects

TRUE

Berita Terkini

latest

Ungkap Sejarah, Bumi 'Dibedah'

Ilustrasi Bumi

Sudah jadi pengetahuan umum bahwa Bumi merupakan planet yang terdiri dari beberapa lapisan. Makin di bawah lapisannya, makin jauh untuk dijangkau oleh tangan-tangan manusia.

Namun upaya terbaru dari sekelompok peneliti ingin memperdalam jangkauan manusia di perut Bumi. Lembaga riset Japan's Agency for Marine-Earth Science and Technology's (JAMSTEC) berencana melakukan pengeboran hingga mantel Bumi.

Dalam rencananya, JAMSTEC akan menggunakan kapal pengebor raksasa bernama Chikyu, juga dari Jepang. Kapal ini dianggap sanggup menjadi kapal induk pengeboran paling dalam yang pernah dilakukan manusia.

Bersama kapal Chikyu, JAMSTEC dan kelompok peneliti asal Amerika Serikat serta Eropa akan mengulur pipa bor sekitar 10 kilometer, 3,5 - 4,5 kilometer untuk menembus lautan dan 6 kilometer menembus kerak Bumi. Setelah menembus lapisan kerak, barulah pipa bor akan menyentuh mantel Bumi.

Mantel Bumi sendiri adalah lapisan dengan volume terbesar di planet ini. Sekitar 84 persen lapisan mantel menyelubungi isi Bumi. Selain itu ia juga punya massa terbesar dengan 67,8 persen dari total massa Bumi.

Eksplorasi hingga lapisan mantel Bumi sebelumnya memang belum pernah dilakukan. Jika proyek ini terlaksana, maka ini akan menandai pertama kalinya manusia selangkah lebih maju mengenal isi Bumi.

"Kami sebenarnya tidak tahu persis komposisi mantel. Kami hanya melihat sejumlah material mantel - batuannya sangat indah, berwarna hijau kekuningan," ucap Natsue Abe, peneliti dari JAMSTEC seperti diwartakan CNN.

Alasan dari misi pengeboran ini setidaknya ada empat yaitu mengakses mantel Bumi dengan bor dasar laut, mempelajari proses terbentuknya lapisan kerak Bumi, mencari tahu apakah ada organisme seperti mikroba hidup di lapisan mantel, dan yang paling penting adalah memprediksi fenomena di lapisan permukaan yang ditinggali manusia.

Poin alasan terakhir masuk akal sebab sebagai negara yang memimpin misi tersebut, Jepang merupakan salah satu negara dengan yang paling sering diguncang gempa. Mereka berharap misi ini bisa memberi mereka sebagian jawaban. Maka tak heran apabila pemerintah Jepang jadi salah satu sponsor utama misi pengeboran ini.

"Di Jepang kami punya beberapa gunung volkano, gempa, dan bencana alam serupa. Orang ingin menciptakan alat pengawasan atau analisis tapi kami tidak tahu apa yang mesti dipakai," imbuh Abe.

Untuk saat ini, tim peneliti masih melakukan kajian pendahuluan selama dua pekan di perairan Hawaii. Kajian ini akan menentukan letak titik pengeboran kapal Chikyu.

Selain Hawaii, tim peneliti membidik perairan Kosta Rika dan Meksiko. Pemilihan titik awal bor di atas laut ini disebabkan oleh ketebalan kerak samudera dengan kerak benua sangat berbeda.

Kerak benua setidaknya dua kali lebih tebal ketimbang kerak samudera. [Bintoro Agung/CNN Indonesia]