Sticky

FALSE

Page Nav

HIDE

GRID

GRID_STYLE

Hover

TRUE

Hover Effects

TRUE

Berita Terkini

latest

Secuil Kisah dari Hunan, Tanah Kelahiran Mao Zedong

Avatar Hallelujah Mountain, begitu nama gunung itu dikenal saat ini. Semula saya hanya mengenalnya hanya dari film Avatar karya James Cameron. Setelah mengunjunginya, saya baru memahami bahwa Hunan adalah tanah kelahiran Mao Zedong, pendiri negara Republik Rakyat Tiongkok.

QEYLA ASSYIFA, Hunan

Gerimis turun diantara pohon-pohon hijau yang menyelimuti bukit-bukit lancip di atas embun, Sabtu (11/3/2017). Kawasan ini sekarang masuk sebagai Taman Nasional Zhangjiejie dan tercatat dalam daftar geopark di UNESCO.

Hunan merupakan sebuah provinsi di kawasan Tiongkok Tengah dengan ibukota Changsha. Pemerintah Republik Rakyat Tiongkok menjadikan kawasan Hunan sebagai kawasan pariwisata.

Di Hunan juga terdapat Akademi Yuelu, bagian dari Universitas Hunan yang berusia ribuan tahun. Kampus yang telah melahirkan banyak pemikir besar seperti pejabat senior pemerintahan pada Zaman Dinasti Qing, Zeng Guofan, ahli filsafat pada zaman Dinasti Song, Zhu Xi, termasuk Mao Zedong.

Adanya kampus itu membuat Hunan bukan hanya baik dikunjungi karena keindahan wisatanya, namun juga keunggulan budaya dan teknologinya.

"Pemandangan disini indah, sungguh indah," kata Yenni Fitriani, salah satu pengunjung Provinsi Hunan asal Bengkulu.



Hanya saja, Yenni menyayangkan sedikitnya alternatif makanan yang ada di Hunan. Babi merupakan makanan favorit masyarakat di kawasan itu.

"Babi bahkan di pajang di kaki lima, dijadikan sate, sosis dan lain-lain. Baunya tidak tahan," ungkapnya.

Selain itu, toilet umum di kawasan Hunan tidak dilengkapi dengan air. Pengunjung hanya disediakan tisu untuk membersihkan kotoran setelah buang hajat.

"Meskipun kami tinggal di desa, tapi kehidupannya jauh lebih maju dari Kota Bengkulu. Penduduknya sangat menonjolkan hasil kerajinan tangan," sambung Yenni.

Seperti yang disebut sebelumnya, wisata di Provinsi Hunan tidak hanya mengandalkan kecantikan alam, namun juga kecanggihan teknologinya.

"Semua objek wisata dilengkapi dengan atribut teknologi canggih," beber Yenni.

Di gunung, tidak ada lagi warga yang tinggal. Pemerintah meminta kepada penduduknya untuk pindah dari gunung karena akan dijadikan sebagai objek wisata.

Meski diminta pindah, namun penduduk mendapatkan ganti rugi yang sangat besar. Beberapa orang bahkan mengaku seumur hidupnya tidak perlu bekerja karena ganti rugi tersebut.

"Kata supir bis yang membawa kami berwisata, dia termasuk yang diberikan ganti rugi. Dia jadi supir hanya untuk mengisi waktu luang, ketimbang main kartu," ujarnya.

Di tempat pejalan kaki, sama sekali tidak ada pedagang kaki lima, hanya ada kios-kios. Provinsi Hunan bersih dari sampah. Disetiap lokasi wisata tersedia tempat sampah yang dibagi dalam empat jenis.

"Naik gunung pakai cable car, masuk ke goa, berjalan di atas jembatan kaca dengan panjang 400 meter, naik kereta melihat lokasi syuting Avatar, naik sky walk, semua menjadi pengalaman yang menyenangkan," tuturnya.

Dari tour guide yang membawa kami, sebuah kisah Mao Zedong membuat saya terkesan. Ternyata tokoh terpenting dalam sejarah modern Tiongkok itu telah membawa bakat kepemimpinan sejak ia berusia 6 tahun.

Dikisahkan, Mao Zedong kecil adalah anak seorang miskin. Ia harus menggembala sapi. Padahal, sebagaimana anak seusianya, ia lebih suka bermain.

Mao kemudian mengumpulkan teman-temannya lalu membaginya dalam tiga kelompok. Satu kelompok mencari rumput, satu kelompok mencari buah dan satu kelompok lagi menjaga sapi.

Setelah tugas kelompok selesai, mereka kembali berkumpul. Mereka kemudian bermain di dekat sapi yang sedang memakan rumput. Ketika lapar, mereka memakan buah yang tadi sudah dikumpulkan.

Dengan demikian, sapi mereka tetap terjaga, kepuasan bermain mereka dapatkan dan perut mereka juga terisi. Dan hebatnya, itu ketika usia Mao Zedong baru 6 tahun. (**)