Sticky

FALSE

Page Nav

HIDE

GRID

GRID_STYLE

Hover

TRUE

Hover Effects

TRUE

Berita Terkini

latest

Beruntung Jika Anda Tipe Ambivert

introvert-ambivert-extrovert-test-quizTAHUKAH anda bahwa tipe ambivert lebih muda sukses? Selama ini, kita hanya mengenal dua jenis karakter, ekstrovert dan introvert. Namun, ada satu tipe karakter yang luput dari perhatian, yakni ambivert. 

Keuntungan mengetahui tipe karakter diri bisa jadi penolong untuk mengenali dimana kelebihan dan kekurangan anda. Bisa jadi anda bukan seorang yang solider, tapi protektif yang menyulitkan anda dapat membangun kerjasama yang baik dengan orang lain.

Adalah Carl Jung, yang pertamakali mengelompokkan orang kedalam dua tipe berdasarkan tingkahlaku sosialnya. Introvert adalah tipe pribadi yang tertutup. Tipe ini selalu berhati-hati dalam berinteraksi dengan orang lain sehingga lebih senang dengan hidup kesendirian. Meskipun merasa terasing ditengah keramaian, namun tipe ini memiliki jiwa yang ulet dan mandiri (selfhelp).

Tipe ekstrovert adalah kebalikkannya, tipikal yang lebih terbuka (open-mind), interkatif dan suka bergaul. Mereka yang digolongkan ekstrovert merupakan orang yang gemar berinteraksi. Semangat mereka berasal dari faktor luar, mereka senang menjadi pusat perhatian, melakukan brainstorming dengan orang lain. Satu hal yang pasti, mereka sangat tidak suka dengan kesendirian.

Namun hal yang mengejutkan bagi tipe ekstropert adalah tidak adanya relasi antra karakternya dengan kinerjanya sebagaimana hasil studi Adam M. Grant. Penelitian Adam M. Grant mengungkapkan tipe karakter ekstropert dengan kemampuan komunikasi bisnis sangatlah lemah.

Mereka yang dinilai sukses dalam membangun relasi dan usaha adalah mereka yang bertipe ambivert. Tipe karakter campuran dari keduanya. Karakter intropert memiliki keseimbangan untuk selalu memiliki kemampuan interospeksi dan pengembangan diri yang positif. Namun demikian, tak ada ciri yang dominan yang dimiliki oleh seorang ambivert.

Dalam laporan studi mengenai ambivert yang dimuat di jurnal Psychological Science di tahun 2013, dijelaskan bahwa orang ambivert sangat mudah beradaptasi dengan keadaan lingkungan yang bisa menjadikannya seorang ekstrovert, ataupun introvert.

Dalam studi yang dipimpin oleh Dr Grant, salah seorang psikolog di University of Pennsylvania, dijelaskan bahwa setengah dari total populasi dunia memiliki kepribadian ambivert. Dikutip dari Wall Street Journal, Dr Grant menjelaskan bahwa hanya sepertiga dari penduduk dunia yang memiliki pribadi ekstrovert dan introvert yang dominan.

Dari studi tersebut pula, dijelaskan bahwa seorang yang ambivert di suatu waktu akan sangat senang bersosialisasi, sedangkan di waktu lain, juga merasa nyaman hidup menyendiri. Ternyata dalam dunia pekerjaan, tipe ambivert memiliki hubungan positif dengan harapan pekerjaan. Tipe ambiver akan lebih fleksibel, tercontrol, persuasif, dan bahkan peka dalam menangkap keinginan konsumen.

Menurut Hans Eysencek, psikolog yang menciptakan istilah ambivert, alasan utama yang membuat tipe ambivert sukses adalah keseimbangan. Jika ekstrovert mudah terpengaruh dan introvert bersikap hipersensitif, maka ambivert mampu menyesuaikan diri dengan lingkungannya.

Salah satu kelebihan ambivert adalah sikapnya yang tidak mudah dipengaruhi faktor luar. Tipe ambivert lebih cenderung dipengaruhi oleh pandangannya sendiri. Ini merupakan kesimpulan yang selalu didapatkan dalam saat anda mengikuti tes kepribadian yang dibuat oleh Daniel H. Pink.

Tipe ambivert memiliki kelebihan yang membuatnya mudah mencapai kesuksesan. Pertama, fleksibel. Tipe ambivert tak memercayai satu cara atau satu jalan. Tipe ini percaya banyak jalan menuju Roma. Tipe ini juga tetap merasa nyaman meski bekerja berada di dalam ruangan maupun di luar ruangan.

Emosi yang stabil merupakan karakter kedua ambivert. Selain itu, tipe ambivert juga lebih dominan, hal ini dibuktikan dari tes ilmiah, mereka yang ambivert meraih keuntungan perjam yang lebih besar sebanyak US$ 155 dolar alias 24% lebih tinggi dari mereka yang ekstrovert.

Ambivert juga dinilai lebih intuitif. Jurnalis Daniel K. Pink sempat menulis, "ambivert tahu kapan harus bicara dan kapan harus diam. Mereka juga tahu kapan harus merespon, kapan harus memaksa dan kapan harus menahan diri. [RPHS]