PedomanBengkulu.com, Jakarta - Konsolidasi rupiah diperkirakan masih akan berlanjut. Rupiah mendapat ruang penguatan pada perdagangan pasar spot hari ini, Selasa (6/10/2026), usai harga minyak terpangkas 1,89% kemarin dan pagi ini berada di US$100,28/barel.
Penurunan harga minyak terjadi lantaran ekspor dari Teluk Persia dikabarkan meningkat. Selain itu, produksi minyak Kuwait dikabarkan telah mencapai sekitar 75% dari level sebelum perang. Arab Saudi juga memangkas harga jual minyak lewat Saudi Aramco, yang mengindikasikan bahwa pasar relatif lebih longgar.
Di pasar Non-Deliverable Forwards (NDF), rupiah pagi ini mendapat tenaga dengan penguatan terbatas 0,04% ke Rp17.933/US$.
Terpangkasnya harga minyak mentah sebenarnya berpotensi memberi sedikit ruang bagi mata uang di pasar Asia. Namun, di sisi lain tingginya yield US Treasury yang kembali bertambah 3,4 basis poin (bps) menjadi 5,3% menahan laju mata uang kawasan.
Meningginya yield US Treasury diikuti oleh penguatan indeks dolar Amerika Serikat (AS) di level 102,17. Hal ini juga berpotensi menahan pergerakan sejumlah mata uang di kawasan.
Data Bloomberg menunjukkan dolar Singapura melemah bersama won Korea Selatan, baht Thailand, yuan offshore dan dolar Hong Kong, meski dalam rentang yang sangat terbatas. Sementara, di zona hijau hanya ada yen Jepang.
Pergerakan mata uang Asia hari ini dibayangi oleh kenaikan yield di pasar obligasi global. Kenaikan yield US Treasury diikuti juga oleh kenaikan yield di pasar obligasi Inggris sebesar 5,2 bps ke 5,41% untuk tenor 10 tahun.
Begitu juga dengan Italia, Jerman, dan Belanda. Kenaikan yield obligasi ketiga negara ini masih-masing 2 bps ke 4,62%, 3,1 bps ke 3,48%, dan 3 bps ke 3,6%.
Sementara, obligasi Jepang tercatat naik 1,5 bps ke 3,08%, Australia naik 5 bps ke 5,38%, dan Selandia Baru naik 4,1 bps ke 5,07%. Bahkan, yield obligasi pemerintah Indonesia berdenominasi dolar AS ikut mengalami aksi jual dan naik hingga ke 6,26%.
Obligasi global banyak dilepas investor usai kembali meningkatnya kemungkinan kenaikan suku bunga Fed Fund Rate (FFR). Berdasarkan CME Fedwatch, probabilitas kenaikan FFR ke 4-4,25% kembali naik jadi 23,8% dari sehari sebelumnya masih berada di 17,7%.
Di tengah tekanan jual di pasar obligasi ini, penguatan rupiah diperkirakan tertahan. Rupiah spot diproyeksikan bergerak di rentang Rp17.870-17.950/US$.
Analisis Teknikal
Secara teknikal, nilai tukar rupiah juga masih dibayang-bayangi risiko pelemahan. Target terdekat menuju level Rp17.950/US$ yang merupakan support pertama dan berikutnya secara berharap tertahan di Rp17.980/US$.
Apabila menembus kedua support tersebut, maka mata uang Ibu Pertiwi mungkin saja melemah lebih lanjut menuju level Rp18.000/US$ sebagai support terkuatnya.
Namun jika nilai tukar rupiah mampu menguat, maka resistance yang menarik dicermati ada di level Rp17.870/US$. Resistance lanjutan adalah Rp17.800/US$.
Adapun nilai tukar rupiah sejatinya masih memiliki potensi penguatan lanjutan jika nantinya sentimen pasar mulai membaik menuju resistance potensial ke level Rp17.700/US$. Meski saat ini peluang ke arah sana relatif terbatas.
Sumber: www.bloombergtechnoz.com