PedomanBengkulu.com, BENGKULU — Di tengah keterbatasan ekonomi, masih ada anak-anak di Kota Bengkulu yang harus meninggalkan bangku sekolah demi membantu keluarga bertahan hidup. Namun, putus sekolah bukan berarti putus harapan.
Pemerintah Kota Bengkulu di bawah kepemimpinan Wali Kota Dedy Wahyudi Wahyudi dan Wakil Wali Kota Ronny PL Tobing Tobing terus berupaya mencari, menjangkau, dan memfasilitasi anak-anak putus sekolah agar kembali mendapatkan hak pendidikannya melalui Sanggar Kegiatan Belajar (SKB).
“Jangan sampai kemiskinan hari ini membuat anak-anak kita kehilangan masa depan. Pendidikan adalah salah satu jalan untuk memutus mata rantai kemiskinan. Karena itu, anak yang putus sekolah harus kita cari dan kita bantu untuk kembali belajar,” tegas Kepala Dinas Sosial Kota Bengkulu Afri Yenita.
Upaya tersebut terlihat saat Kepala Dinas Sosial Kota Bengkulu Afriyenita, mengikuti dan mendampingi kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) pada Unit Pelaksana Teknis (UPT) Direktorat Jenderal Rehabilitasi Sosial Kementerian Sosial Tahun Ajaran 2026/2027, Minggu (20/9/2026).
Bertempat di Sentra Dharma Guna, Afriyenita didampingi Sekretaris Dinas Sosial Kota Bengkulu Iryana, S.Sos bersama pendamping sosial Kementerian Sosial, Subkor Yeyen Visiesha dan Puja Kusuma turut mendampingi sejumlah anak yang sebelumnya putus sekolah dan kini kembali mendapatkan kesempatan untuk menempuh pendidikan.
Di antara mereka ada Erwin, anak dari seorang janda yang menjadi tulang punggung keluarga. Sehari-hari Erwin membantu memenuhi kebutuhan keluarga dengan berjualan kerupuk dan mengamen. Ada pula Ahmad Nur Affandi, anak seorang pemulung, serta Gebby, anak yatim piatu yang sempat putus sekolah.
Selain itu, terdapat Farel Riski, yang putus sekolah pada jenjang SMP, serta Sabila, yang juga harus berhenti sekolah karena keterbatasan ekonomi keluarga.
Meski memiliki latar belakang dan persoalan yang berbeda, kelima anak tersebut hari ini menunjukkan semangat yang sama: kembali mengenakan identitas sebagai pelajar dan membuka kembali pintu masa depan mereka.
Afriyenita mengatakan, persoalan anak putus sekolah tidak bisa hanya dilihat sebagai persoalan pendidikan semata. Di baliknya terdapat persoalan ekonomi, kondisi keluarga, hingga lingkungan sosial yang membutuhkan perhatian bersama.
“Tugas kita bukan hanya mencatat siapa yang putus sekolah, tetapi memastikan mereka kembali mendapatkan hak untuk belajar. Jangan biarkan kondisi ekonomi hari ini menentukan masa depan mereka selamanya,” ujarnya.
Menurutnya, kolaborasi antara Pemerintah Kota Bengkulu, Kementerian Sosial, pendamping sosial, serta berbagai pihak menjadi penting untuk memastikan anak-anak dari keluarga rentan tetap memperoleh kesempatan pendidikan.
MPLS SKB pun menjadi langkah awal bagi anak-anak tersebut untuk kembali beradaptasi dengan lingkungan belajar, membangun kepercayaan diri, serta menatap masa depan dengan harapan baru.
Dari berjualan kerupuk, mengamen, hingga hidup dalam keterbatasan ekonomi, mereka pernah kehilangan kesempatan belajar. Hari ini, mereka kembali membuka buku. Sebab putus sekolah seharusnya bukan akhir dari cerita, melainkan titik untuk memulai kembali.