PedomanBengkulu.com, NEW YORK - Total ada 77 negara yang delegasinya ikut walk out massal dari ruang Sidang Majelis Umum PBB sesaat sebelum Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu berpidato pada Kamis sore waktu New York, Amerika Serikat. Dari 77 negara itu, salah satunya adalah Indonesia.
Rekaman video memperlihatkan sebagian besar delegasi meninggalkan ruangan sebelum Netanyahu mulai berpidato, sementara PM Israel yang jadi buronan Mahkamah Pidana Internasional (ICC) atas dugaan kejahatan perang di Gaza itu tampak jelas merasa tidak nyaman karena hanya sedikit orang yang tersisa di ruangan. Dia kemudian menyebut mereka yang walk out sebagai “pengecut moral.”
Daftar 77 Negara yang Delegasinya Boikot Pidato Netanyahu di PBB
1. Suriname
2. Tuvalu
3. Turkmenistan
4. Yaman
5. Mesir
6. Panama
7. Senegal
8. Palestina
9. Sudan
10. Tunisia
11.Turki
12. Venezuela
13.Antigua dan Barbuda
14. Belize
15. Republik Kongo
16.Oman
17. Qatar
18. Arab Saudi
19. Tonga
20. Uzbekistan
21. Angola
22. Barbados
23. Kolombia
24. Komoro
25. Dominika
26. Djibouti
27. Makedonia Utara
28. San Marino
29. Afrika Selatan
30. Somalia
31. Aljazair
32. Bangladesh
33. Brunei Darussalam
34. Brasil
35. Chile
36. Republik Demokratik Kongo (DRC)
37. Lebanon
38. Liberia
39. Eritrea
40. Chad
41. Republik Afrika Tengah
42. Libya
43. Mauritania
44. Yordania
45. Nikaragua
46. Madagaskar
47. Niger
48. Peru
49. Saint Lucia
50. Slovenia
51. Afghanistan
52. Bahama
53. Bosnia dan Herzegovina
54. Botswana
55. Korea Utara
56. Eswatini
57. Suriah
58. Uganda
59. Pakistan
60. Lesotho
61. Bolivia
62. Spanyol
63. Kuba
64. Guinea Ekuatorial
65. Iran
66. Kirgizstan
67. Irak
68. Mozambik
69. Myanmar
70. Irlandia
71. Maladewa
72. Indonesia
73. Kuwait
74. Namibia
75. Malaysia
76. Guyana
77. Kenya
Sebelum pidato Netanyahu dimulai, massa dalam jumlah besar menggelar demonstrasi di sekitar markas besar PBB dan sejumlah lokasi lain di New York. Mereka memprotes kehadiran Netanyahu dan menuduhnya melakukan genosida di Gaza.
Aksi tersebut diikuti kelompok Yahudi Ortodoks anti-Zionis yang membawa poster dan menyebut Netanyahu sebagai penjahat perang, serta kelompok oposisi Yahudi Amerika dan Israel bersama organisasi Barat dan Palestina yang menentang perang di Gaza yang mereka sebut sebagai genosida.
Surat kabar Israel Yedioth Ahronoth melaporkan bahwa massa dalam jumlah besar meninggalkan ruang Sidang Majelis Umum PBB segera setelah Netanyahu naik ke podium, sebelum dia mulai berpidato. Saluran televisi Israel; Channel 12, juga menayangkan gambar yang menunjukkan sebagian besar kursi di ruang sidang dalam keadaan kosong. Netanyahu telah menjadi buronan ICC sejak 2024 atau sejak perang brutal Israel pecah di Gaza pada Oktober 2023.
Dalam pidatonya di PBB, Netanyahu mengecam Wali Kota New York Zohran Mamdani karena menyebutnya sebagai penjahat perang. Dia juga menyerang para pemimpin Eropa Barat yang dituduhnya tunduk pada “massa antisemit”, serta Qatar dan Turki yang menurutnya menyebarkan kebohongan mengenai Israel. “Kalian mencoba mencegah saya datang ke sini. Kalian mencoba. Kalian mencoba membungkam saya.
Nah, kalian tidak bisa membungkam saya. Kalian tidak bisa membungkam kebenaran,” kata Netanyahu, yang secara khusus ditujukan kepada Mamdani. Mamdani sebelumnya berkampanye dengan janji akan menangkap Netanyahu atas dugaan kejahatan perang jika PM Israel itu mengunjungi New York, kota terbesar di Amerika Serikat.
Namun, belakangan Mamdani mengatakan bahwa dirinya menyimpulkan tidak memiliki kewenangan hukum untuk melakukan penangkapan tersebut. Pekan ini, Mamdani menyebut Netanyahu sebagai “arsitek genosida mengerikan terhadap warga Palestina.”
Menanggapi langsung wali kota tersebut setelah perseteruan yang berlangsung menjelang kedatangannya di New York, Netanyahu secara keliru menuduh Mamdani mendukung Hamas.
“Kepada semua orang yang menyebarkan kebohongan mengenai negara saya dan tentara kami yang berani, baik mereka yang duduk di ruangan ini maupun yang berada di kantor wali kota New York yang antisemit, saya katakan: Malulah kalian!” ujar Netanyahu.
Netanyahu, yang menolak tuduhan kejahatan perang terhadap dirinya, melakukan kunjungan pertamanya ke New York sejak Mamdani menjabat pada Januari.
Dalam sebuah pernyataan, Mamdani mengatakan: “Seperti yang telah dilakukannya berkali-kali, Perdana Menteri Netanyahu menggunakan pidatonya untuk mengulangi kebohongan tidak berdasar yang dimaksudkan untuk memutihkan genosidanya terhadap warga Palestina.
Namun, tidak ada kebohongan yang dapat mengubah fakta bahwa dia tetap menjadi subjek surat perintah penangkapan Mahkamah Pidana Internasional atas dugaan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan.” Dengan pemilihan umum Israel tinggal kurang dari lima pekan lagi, Netanyahu berpidato selama sekitar 40 menit dalam pidato yang bernuansa kampanye.
Pidato tersebut disiarkan langsung pada jam tayang utama malam hari oleh keempat saluran televisi utama Israel. Menjelang pidatonya, pemerintah Netanyahu membayar pemasangan 500 papan iklan pro-Israel dan anti-Iran, serta puluhan truk yang membawa pesan dukungan terhadap Israel di seluruh Manhattan, menurut pernyataan kantornya.
Netanyahu, yang dalam berbagai jajak pendapat disebut menghadapi risiko kehilangan kekuasaan, memamerkan apa yang dia sebut sebagai perjuangan Israel di tujuh front. PM Israel yang paling lama menjabat itu sebelumnya kerap menjadikan penampilannya di PBB sebagai pertunjukan visual, menggunakan grafik, diagram, dan berbagai alat peraga untuk memperingatkan mengenai program nuklir Iran, yang oleh Teheran disebut bertujuan untuk kepentingan sipil.
Pada Kamis, Netanyahu mengangkat sebuah pager sebagai rujukan terhadap serangan yang melumpuhkan anggota Hizbullah yang didukung Iran di Lebanon.
Dia juga memperlihatkan perangkat penerima internet satelit Starlink, yang menurutnya akan ditinggalkan untuk delegasi Iran. “Jadi, ketika mereka pada akhirnya membelot, mereka juga akan dapat menceritakan kisah mereka secara bebas di media sosial,” katanya.
Netanyahu menambahkan bahwa hanya masalah waktu sebelum pemerintahan Iran digulingkan oleh rakyatnya sendiri. Demonstrasi di Jalanan New York Para demonstran anti-Israel turun ke jalan-jalan di New York City.
Beberapa ratus orang berkumpul di sekitar markas PBB, sementara puluhan orang memblokir lalu lintas sambil meneriakkan:
“Hentikan mempersenjatai Israel, biarkan Gaza hidup!” Ada juga yang beteriak: “Hentikan mempersenjatai Israel, biarkan Iran hidup!”
Polisi setempat kemudian menahan para demonstran tersebut. Kampanye pemilu di Israel berlangsung di tengah meningkatnya kritik terhadap perang yang dilancarkan negara tersebut di Gaza.
Netanyahu melakukan kunjungan singkat ke Amerika Serikat untuk menyampaikan pidato di PBB dan, secara tidak biasa, tidak memiliki agenda pertemuan dengan Presiden AS Donald Trump, meskipun dia memuji Trump dalam pidatonya.
“Kami akan terus mempertahankan negara kami. Kami akan terus menang karena kami tidak punya pilihan lain. Dalam pertempuran melawan kaum barbar ini, kami tidak memiliki mitra yang lebih besar daripada Presiden Trump. Saya berterima kasih kepadanya. Saya berterima kasih atas kepemimpinannya yang berani,” ujar Netanyahu.
Isolasi Israel Makin Dalam Israel menghadapi isolasi diplomatik yang semakin dalam sejak melancarkan perang di Gaza sebagai respons terhadap serangan yang dipimpin Hamas terhadap Israel hampir tiga tahun lalu. Netanyahu tidak dapat bepergian ke banyak negara karena surat perintah penangkapan dari ICC, yang pada 2024 juga dikeluarkan terhadap dirinya, menteri pertahanan Israel saat itu, serta komandan militer Hamas saat itu.
Awal bulan ini, sekutu Israel yang sebelumnya dikenal dekat, yakni Inggris, Prancis, dan Kanada, mengumumkan sanksi yang menargetkan permukiman Israel di Tepi Barat yang diduduki. Langkah tersebut mendapat tanggapan yang relatif terbatas dari Washington. “Para pemimpin negara-negara ini telah memilih untuk tunduk kepada massa antisemit.
Mereka memilih kelemahan. Mereka memilih politik appeasement,” kata Netanyahu. Dia juga mengecilkan kekerasan yang semakin memburuk di Tepi Barat yang diduduki oleh para pemukim Israel. Netanyahu menggambarkannya sebagai tindakan yang dilakukan oleh “segelintir anak muda nakal, sekitar 150 orang, yang melempar batu dan menebang pohon zaitun.” “Sesekali ... mereka membakar sesuatu.
Saya tidak tahan dengan itu. Saya tidak akan membiarkan aksi main hakim sendiri. Kami adalah negara yang menjunjung hukum," katanya.
Sumber: international.sindonews.com