PedomanBengkulu.com, Bengkulu- Rumah Sakit Harapan dan Doa (RSHD) Kota Bengkulu tengah mempersiapkan lompatan besar dalam peningkatan fasilitas dan mutu pelayanan medis.
RSHD berencana memanfaatkan lahan bekas Dinas Sosial Provinsi Bengkulu serta area bekas gedung Taman Kanak-Kanak (TK) di jalur Jalan Beringin untuk membangun gedung pelayanan eksekutif.
Direktur Utama RSHD Kota Bengkulu, dr. Lista Cherlyviera menjelaskan, lahan strategis tersebut akan ditawarkan kepada Walikota Bengkulu dengan konsep pembangunan pavilion premium non-BPJS.
Fasilitas ini dirancang khusus untuk mengakomodasi kebutuhan masyarakat yang menginginkan kenyamanan ekstra saat menjalani perawatan medis.
“Konsep yang nantinya akan kita tawarkan yaitu membangun fasilitas seperti Pavilion Cendana milik RSCM, yang berbasis layanan non-BPJS. Kita akan mencoba menawarkan konsep kepada Pak Walikota. Konsepnya seperti pavilion royal atau setara hotel untuk pasien yang tidak menggunakan BPJS. Kita melihat ada sebagian masyarakat yang memang tidak ingin memakai BPJS dan lebih memilih jalur swasta murni, sehingga kita siapkan fasilitasnya di area tersebut,” ujar dr. Lista Cherlyviera, Senin (3/8/26).
Selain menyasar pasar premium, pengembangan infrastruktur ini juga menjadi kunci bagi penataan ulang layanan kegawatdaruratan dan pusat penanganan jantung.
Rencana strategisnya, lantai bawah dari gedung baru tersebut akan difungsikan sebagai area perluasan Instalasi Gawat Darurat (IGD).
Langkah ini otomatis akan mengalihkan beban IGD lama, yang nantinya diproyeksikan penuh untuk memperkuat fasilitas penanganan kardiovaskular terpadu.
“Di bagian bawahnya nanti mungkin ada perluasan IGD. IGD yang ada sekarang akan kita manfaatkan untuk peningkatan kapasitas pelayanan jantung, karena gedung Cath Lab-nya kan berada di area IGD. Itulah alasan mengapa tadi saat masuk tidak bisa langsung, karena ke depannya mungkin dalam 5 tahun ke depan pelayanan bisa ditingkatkan hingga ke bedah jantung. Semua ini tentu ada tahap-tahapannya,” tambah dr. Lista.
Manajemen RSHD juga memberikan perhatian serius pada optimalisasi ruang perawatan anak yang kerap kali mengalami lonjakan pasien (overkapasitas). Saat ini, pihak rumah sakit telah menyatukan bangsal anak sebagai bagian dari adaptasi regulasi nasional menuju Kelas Rawat Inap Standar (KRIS).
Meski penggabungan kelas telah memangkas sekat birokrasi antara Kelas 1, 2, dan 3, tingginya angka kunjungan pasien anak menuntut adanya penambahan ruang fisik baru agar pasien tidak perlu tertahan terlalu lama sebelum mendapatkan kamar perawatan.
“Sampai saat ini bangsal anak sudah kita jadikan satu, karena kita sebenarnya sudah mengarah ke standar KRIS (Kelas Rawat Inap Standar) di mana tidak ada lagi perbedaan antara Kelas 1, 2, dan 3 di bangsal tersebut. Namun, seperti yang sering kita dengar, kondisinya selalu penuh. Pasien anak ini jumlahnya memang sangat banyak, sehingga sering kali pasien harus menunggu dulu di ruang antara. Oleh karena itu, perlu ada pemikiran untuk menambah ruangan khusus anak, termasuk pertimbangan kita untuk menyediakan layanan eksekutif,” tutupnya.
Melalui peta jalan (roadmap) pengembangan ini, RSHD Kota Bengkulu berkomitmen menjelma menjadi pusat rujukan medis komprehensif yang mampu melayani seluruh lapisan masyarakat secara adil, sekaligus menyediakan opsi layanan premium yang berdaya saing tinggi.
