PedomanBengkulu.com, Bengkulu – Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Republik Indonesia (RI) Hj Leni Haryati John Latief menggelar sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan bersama Persatuan Kelompok Pengajian se-Kota Bengkulu, baru-baru ini.
Kegiatan ini menekankan penguatan nilai-nilai Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai fondasi moral dan sosial dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Lulusan Magister Administrasi Publik Universitas Bengkulu ini menjelaskan bahwa agama merupakan fondasi moral dalam kehidupan bernegara. Menurutnya, nilai-nilai Pancasila, khususnya Sila Pertama tentang Ketuhanan Yang Maha Esa, sejalan dengan ajaran agama.
“Menjadi religius dan menjadi nasionalis bukanlah dua hal yang bertentangan. Keduanya justru saling menguatkan dalam membangun bangsa yang beradab,” ujar Hj Leni Haryati John Latief.
Mantan Ketua Dewan Pengurus Daerah (DPD) Kaukus Perempuan Politik Indonesia (KPPI) Provinsi Bengkulu ini mengingatkan pentingnya peran tokoh agama dalam sejarah perjuangan bangsa. Para ulama dan pemuka agama, kata dia, memiliki kontribusi besar dalam proses perumusan dasar negara hingga mempertahankan kemerdekaan. Karena itu, jamaah pengajian diharapkan memiliki rasa memiliki terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Dalam konteks keberagaman, Senator Leni John Latief menyoroti pentingnya moderasi beragama dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika. Ia mendorong kelompok pengajian untuk mengedepankan sikap tasamuh atau toleransi sebagai wujud nyata semangat persatuan.
“Kelompok pengajian memiliki peran strategis sebagai agen perekat sosial di tengah masyarakat yang majemuk,” kata Hj Leni Haryati John Latief.
Sebagai anggota DPD RI, Hj Leni Haryati John Latief juga menjelaskan fungsi dan kewenangan lembaganya dalam memperjuangkan aspirasi daerah sebagaimana diamanatkan dalam UUD 1945. Ia menegaskan bahwa penguatan Empat Pilar Kebangsaan berdampak langsung pada stabilitas dan pembangunan daerah. Aspirasi kelompok pengajian, lanjutnya, dapat disalurkan melalui jalur konstitusional untuk mendorong kebijakan yang berpihak pada kesejahteraan masyarakat.
Selain itu, sosialisasi turut mengangkat isu ketahanan keluarga dan sosial. Pembina Bundo Kanduang Provinsi Bengkulu ini menghubungkan nilai-nilai kebangsaan dengan tantangan nyata yang dihadapi masyarakat, seperti pendidikan karakter anak, pencegahan radikalisme, serta penguatan semangat gotong royong melalui pemberdayaan ekonomi umat.
Kegiatan ini mendapat respons positif dari peserta yang hadir. Para anggota kelompok pengajian menyatakan komitmennya untuk terus menanamkan nilai-nilai kebangsaan dalam aktivitas keagamaan dan sosial di lingkungan masing-masing, guna memperkokoh persatuan dan mendukung pembangunan di daerah. [**]
