PedomanBengkulu.com, Bengkulu- Bank Indonesia (BI) Perwakilan Provinsi Bengkulu mendorong Pemerintah Kota Bengkulu dan TPID untuk meningkatkan kediisipinan dalam pelaporan administratif serta penyelenggaraan rapat koordinasi.
Meskipun capaian outcome inflasi daerah dinilai sangat baik, kelemahan dari sisi proses dan dokumentasi pelaporan dapat menggerus total nilai kinerja daerah.
Hal itu dipaparkan oleh Kepala Perwakilan BI Provinsi Bengkulu, Wahyu Yuwana Hidayat, dalam acara High Level Meeting (HLM) dan Capacity Building TPID serta TP2DD di Kantor Walikota Bengkulu, Selasa (22/9/2026).
Dalam penilaian TPID nasional/regional, aspek proses memiliki bobot 20%, output 30%, dan outcome 50%. Wahyu menyoroti banyaknya kegiatan nyata di lapangan seperti gerakan pangan murah dan operasi pasar yang sudah dilaksanakan secara masif namun tidak tercatat dengan maksimal di sistem pelaporan.
"Dilakukan tapi tidak dilaporkan, itu sayang Pak. Padahal Bapak bisa dapat 100% dari sisi prosesnya. Diperlukan inisiasi pelaksanaan High Level Meeting dan capacity building. High Level Meeting ini barang yang simpel sebetulnya, Bapak memimpin kemudian hadir beberapa kepala dinas, itu sudah bisa dikatakan sebagai High Level Meeting,” ungkap Wahyu dihadapan Walikota.
Bl merekomendasikan agar TPID Kota Bengkulu memperkuat pelaporan secara terperinci (detailing), meningkatkan frekuensi rapat koordinasi teknis, serta memastikan setiap arahan kebijakan memiliki risalah dan laporan tindak lanjut yang matang agar dapat dinilai secara optimal oleh pemerintah pusat.
Disisi lain, Wahyu menegaskan bahwa kinerja pengendalian inflasi di Kota Bengkulu memegang peranan paling penting dalam menentukan angka inflasi di tingkat provinsi.
Wahyu menjelaskan, sebagai kota konsumsi dengan jumlah penduduk yang besar, pergerakan harga komoditas di Kota Bengkulu secara langsung menentukan kondisi inflasi daerah secara keseluruhan.
"Kota Bengkulu yang menentukan sebetulnya angka inflasi provinsi. Merahnya Bengkulu maka merah pula provinsi, putihnya Kota Bengkulu maka putih pula Provinsi Bengkulu. Jadi memang kinerja pengendalian inflasi Kota Bengkulu yang lebih menentukan," ujar Wahyu Yuwana Hidayat.
la juga menambahkan bahwa tekanan inflasi di wilayah tersebut masih dipengaruhi oleh beberapa komoditas pangan utama. Berdasarkan pantauan di pasar, kenaikan harga daging ayam, cabai merah, dan gula pasir memberikan andil signifikan terhadap inflasi, sehingga diperlukan langkah intervensi pasar yang terarah dan berkata untuk menjaga daya beli masyarakat.