Sticky

FALSE

Page Nav

HIDE

GRID

GRID_STYLE

Hover

TRUE

Hover Effects

TRUE

Berita Terkini

latest

Studi: Orang Tua Ngevape Berisiko Tingkatkan Risiko Asma pada Anak

 


PedomanBengkulu.com,  JAKARTA -- Orang tua perokok yang berpikir bahwa beralih ke vape dapat mengurangi risiko asma bagi anak mereka mungkin perlu mempertimbangkan kembali hal tersebut. Sebuah studi terhadap lebih dari 48 ribu kunjungan dokter menemukan, anak penderita asma memiliki risiko kekambuhan lebih tinggi ketika orang tuanya menggunakan vape.

Temuan ini dipresentasikan oleh tim peneliti dalam pertemuan American Academy of Pediatrics (AAP) di San Diego. Penelitian dipimpin Brian Jenssen, profesor madya bidang pediatri sekaligus dokter anak di Children's Hospital of Philadelphia.

"Banyak orang tua percaya bahwa rokok elektrik merupakan alternatif yang lebih aman dibandingkan rokok konvensional, baik bagi kesehatan mereka sendiri maupun kesehatan anak-anak mereka. Temuan kami menunjukkan bahwa anggapan tersebut tidak sepenuhnya tepat bagi anak-anak penderita asma," kata dr Jenssen dilansir laman US News, Ahad (4/9/2026).

Studi ini menganalisis data dari 48 ribu kunjungan klinik dalam jaringan layanan kesehatan anak berskala besar di Amerika Serikat. Seluruh kunjungan berlangsung selama periode 33 bulan dan melibatkan anak berusia satu tahun ke atas yang telah didiagnosis asma. Dalam setiap kunjungan, pengasuh melaporkan penggunaan tembakau dan vape di rumah.

Hasilnya, penggunaan tembakau dan rokok elektronik secara bersamaan dilaporkan dalam 9 persen kunjungan. Sementara itu, penggunaan tembakau saja tercatat dalam 5 persen kunjungan dan penggunaan vape saja dalam 3 persen kunjungan.

Anak yang terpapar kombinasi asap rokok konvensional dan vape di rumah menyebabkan tingkat kekambuhan asma tertinggi pada anak-anak. Paparan tersebut dikaitkan dengan lebih banyak kekambuhan asma, gejala pada malam hari maupun saat beraktivitas, peningkatan penggunaan inhaler pereda, serta lebih banyak rawat inap. Namun, paparan terhadap salah satu produk saja juga tidak sepenuhnya aman. Paparan vape saja misalnya, tetap dikaitkan dengan tingkat kekambuhan asma yang lebih tinggi pada anak-anak.

"Tidak ada tingkat paparan tembakau atau rokok elektrik yang aman bagi anak-anak. Orang tua dan pengasuh yang menggunakan produk tembakau atau nikotin apa pun harus berupaya semaksimal mungkin untuk berhenti," kata Dr Jenssen.

Menurut dia, terdapat sejumlah metode berhenti merokok yang telah didukung bukti ilmiah, termasuk varenicline, terapi penggantian nikotin atau nicotine replacement therapy (NRT), serta konseling. Sebelumnya, Dokter spesialis anak subspesialis respirologi anak, dr Cinthya Centauri, juga menegaskan bahwa vape sama bahayanya dengan rokok konvensional. la mengatakan vape terbukti mengandung nikotin dalam kadar tinggi, bahkan terdapat vape yang kadar nikotinnya dalam satu kali hirup setara dengan satu bungkus rokok biasa.

"Vape itu kandungan nikotinnya tinggi sekali ho, bahkan ada yang satu kali hirup itu sebanding dengan satu bungkus rokok biasa. Ini jelas bahaya, apalagi jika asapnya terpapar kepada bayi dan anak-anak," kata dr Cinthya dalam diskusi dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) beberapa waktu lalu.

Dampak jangka pendek dari penggunaan atau paparan vape terhadap anak sudah banyak diungkap oleh literatur medis. Menurut dr Cinthya, vape terbukti dapat menyebabkan gangguan saluran pernapasan, mulai dari bronkitis, pneumonia, radang paru hingga pneumotoraks atau kondisi paru-paru yang pecan secara spontan.

Namun untuk dampak jangka panjang vape belum banyak penelitiannya. Hal itu karena vape baru beredar secara masif dalam 10 tahun terakhir sehingga data jangka panjangnya mash terbatas. Meski begitu, dr Cinthya tak menutup kemungkinan vape bisa memic kanker paru dalam jangka panjang.

"Tapi jika melihat tingginya kadar nikotin yang terkandung di dalam vape, sangat mungkin dampak panjang dari vape bisa memicu kanker paru di kemudian hari," kata dr Cinthya.

la juga menyoroti praktik pemasaran dan promosi vape yang kerap dikemas dengan menggemaskan. Misalnya hadir dengan likuid dari berbagai aroma seperti matcha, stroberi, dan wewangian lainnya. Praktik pemasaran seperti ini, kata dr Cinthya, memberikan kesan seolah-olah vape bukan peoduk berbahaya. Bahkan bisa jadi konsumen menganggapnya sebagai aromaterapi atau sesuatu yang membuat nyaman.

"Yang jadi masalah kemasan vape ini juga sering menipu, ada rasa matcha, stroberri, atau lainnya, sehingga vape dianggap sebagai pelega atau mungkin bisa ditafsirkan sebagai aromaterapi gitu ya. Padahal sebetulnya vape sifatnya sangat berbahaya," ujar dr Cinthya.

la juga menyoroti lemahnya regulasi mengenai vape di Indonesia, sehingga produk vape dengan kadar nikton sangat tinggi mash bisa beredar di pasaran. Padahal di sejumlah negara, kadar nikotin pada vape telah diatur secara ketat sehingga produk yang melebihi batas tertentu tidak diizinkan beredar.


Sumber: ameera.republika.co.id