PedomanBengkulu.com - Ketika Masjid Menjadi Pusat Peradaban, Negeri Akan Menjadi Rahmat
Oleh: Saeed Kamyabi
Mengapa Rasulullah ï·º membangun masjid sebagai bangunan pertama ketika tiba di Madinah?
Menyapa bukan ladang pertanian?
Mengapa bukan pasar perdagangan?
Mengapa bukan benteng pertahanan?
Mengapa bukan istana pemerintahan?
Karena Rasulullah ï·º mengetahui bahwa membangun manusia jauh lebih penting daripada mendirikan bangunan.
Masjid bukan sekadar tempat shalat.
Masjid adalah tempat membangun manusia.
Jika manusianya baik, maka keluarga akan baik.
Jika keluarga baik, masyarakat akan baik.
Jika masyarakat baik, insya Allah akan lahir negeri yang baik.
Allah Ta'ala berfirman:
"...Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri."
(QS. Ar-Ra'd: 11)
Ayat ini mengajarkan bahwa perubahan masyarakat berawal dari perubahan manusia. Masjid menjadi salah satu tempat utama untuk membentuk kejujuran, amanah, disiplin, kepedulian, dan persaudaraan.
Masjid Nabawi: Lebih dari Tempat Shalat
Pada masa Rasulullah ï·º, Masjid Nabawi memiliki banyak fungsi.
Di sanalah kaum muslimin belajar Al-Qur'an.
Di sanalah para sahabat bermusyawarah.
Di sanalah tamu-tamu dari berbagai daerah diterima.
Di sanalah persoalan masyarakat dibahas.
Di sanalah kaum fakir mendapat perhatian.
Di sanalah para sahabat ditempa menjadi pemimpin.
Masjid bukan hanya membina hubungan manusia dengan Allah, tetapi juga memperkuat hubungan antarsesama manusia.
Karena itu, ketika amal masjid hidup, maka kehidupan masyarakat pun ikut bergerak.
Jika Masjid Indonesia Bergerak Bersama
Bayangkan apabila satu juta masjid/mushala di Indonesia memiliki program yang terencana.
Setiap masjid membina anak-anak menghafal Al-Qur'an dan hadits.
Setiap masjid memiliki perpustakaan.
Setiap masjid membuka kelas keterampilan.
Setiap masjid membantu pengangguran menemukan pekerjaan.
Setiap masjid mendampingi keluarga yang sedang mengalami kesulitan.
Setiap masjid membina para pemuda menjadi generasi yang berakhlak.
Setiap masjid mengelola zakat, infak, dan sedekah secara transparan dan tepat sasaran.
Maka masjid tidak hanya ramai saat shalat, tetapi juga menjadi pusat pemberdayaan masyarakat.
Pemimpin yang Melayani
Bangsa yang besar memerlukan pemimpin yang jujur.
Namun kejujuran tidak muncul secara tiba-tiba ketika seseorang dilantik.
Ia dibentuk melalui pendidikan, keteladanan, dan pembiasaan.
Masjid dapat menjadi tempat menanamkan nilai bahwa jabatan adalah amanah, bukan alat untuk mencari keuntungan pribadi.
Seorang anak yang tumbuh di lingkungan masjid yang terbuka, adil, dan melayani, memiliki teladan yang dapat membentuk karakter kepemimpinannya.
Saatnya Gerakan Indonesia Memakmurkan Masjid
Sudah saatnya pengelolaan masjid memasuki babak baru.
Bukan hanya membangun kubah yang indah.
Bukan hanya memperluas bangunan yang sempit.
Tetapi juga meningkatkan kualitas pengelolaan.
Perlu pelatihan bagi para pengurus masjid dalam bidang:
- Kepemimpinan dan pelayanan jamaah.
- Manajemen organisasi.
- Pengelolaan keuangan yang transparan dan akuntabel.
- Pengembangan ekonomi umat.
- Pendidikan keluarga dan kepemudaan.
- Pemanfaatan teknologi informasi untuk pelayanan masjid.
Bahkan Gubernur Bengkulu Helmi Hasan, kini tengah gigih mempromosikan GIM24 Gerakan Indonesia Memakmurkan Masjid 24 Jam, beliau menyatakan bahwa sudah saatnya perguruan tinggi mengembangkan Program Studi Manajemen Masjid, agar lahir tenaga profesional yang mampu mengelola masjid sebagai pusat ibadah, pendidikan, sosial, dan pemberdayaan masyarakat.
Mulai dari Masjid
Bangsa ini memiliki ribuan ulama.
Jutaan masjid/mushala.
Puluhan juta jamaah.
Semua adalah potensi besar.
Apabila potensi itu dikelola dengan ilmu, amanah, dan semangat melayani, insya Allah masjid dapat menjadi pilar yang memperkuat pendidikan karakter, kepedulian sosial, dan persatuan bangsa.
Perubahan memang membutuhkan kerja keras di banyak bidang —pendidikan, hukum, ekonomi, tata kelola pemerintahan, dan partisipasi masyarakat. Namun masjid dapat menjadi salah satu titik awal yang sangat strategis untuk membangun manusia yang beriman, berilmu, dan berakhlak.
Mari kita hidupkan kembali fungsi masjid sebagai pusat peradaban.
Mari kita jadikan masjid sebagai tempat lahirnya generasi yang mencintai Allah, mencintai ilmu, mencintai kejujuran, dan mencintai negeri.
Karena ketika rumah Allah SWT dimakmurkan dengan iman, ilmu, amanah, dan pelayanan, kita berharap lahir masyarakat yang kuat dan negeri yang semakin diberkahi..