PedomanBengkulu.com, Bengkulu — Anggota Komisi X DPR RI Fraksi PAN dari Daerah Pemilihan Bengkulu, Dr. drh. Hj. Dewi Coryati, M.Si, mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, untuk terus menjaga dan melestarikan warisan budaya daerah melalui kegiatan Semarak Budaya: Sejarah Tabut Bengkulu.
Kegiatan yang merupakan kolaborasi antara Komisi X DPR RI dan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia ini menjadi ruang edukasi budaya yang bertujuan memperkuat pemahaman masyarakat terhadap sejarah dan nilai-nilai yang terkandung dalam Tradisi Tabut, salah satu warisan budaya paling penting di Provinsi Bengkulu.
Dalam sambutannya, Dewi Coryati menegaskan bahwa Tabut bukan sekadar perayaan budaya, melainkan simbol perjalanan sejarah, nilai spiritual, serta kearifan lokal yang telah hidup dan diwariskan secara turun-temurun selama berabad-abad.
“Tradisi Tabut mengajarkan kita tentang gotong royong, toleransi, dan kebersamaan. Ini adalah bagian dari jati diri masyarakat Bengkulu yang harus terus dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya,” ujar Dewi Coryati.
Menurutnya, tantangan pelestarian budaya di era globalisasi semakin besar. Perubahan gaya hidup dan derasnya arus informasi berpotensi membuat generasi muda semakin jauh dari sejarah dan budaya daerahnya sendiri. Oleh karena itu, diperlukan berbagai upaya edukatif yang menarik, komunikatif, dan relevan dengan perkembangan zaman.
Melalui Semarak Budaya, masyarakat diajak untuk mengenal lebih dalam sejarah Tabut melalui penyampaian materi budaya, dialog interaktif, pameran, pertunjukan seni tradisional, hingga penampilan musik Dol yang menjadi ciri khas Bengkulu.
Dewi Coryati berharap kegiatan ini dapat menumbuhkan rasa bangga, cinta, dan tanggung jawab bersama dalam menjaga keberlangsungan warisan budaya daerah. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi momentum untuk memperkuat sinergi antara pemerintah, pelaku budaya, akademisi, dan masyarakat dalam mengokohkan Bengkulu sebagai daerah yang kaya akan sejarah dan kearifan lokal.
“Menjaga budaya bukan hanya tugas pemerintah atau pelaku seni, tetapi tanggung jawab kita bersama. Melalui pemahaman sejarah yang kuat, kita dapat menjaga identitas daerah sekaligus memperkenalkannya kepada generasi mendatang,” tutup Dewi Coryati.
