PedomanBengkulu.com, Jakarta - Rupiah hari ini berpotensi kembali terkonsolidasi usai penguatan tipis pada sesi perdagangan pekan lalu. Mengacu data Bloomberg Senin (12/10/2026), rupiah di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) mulanya dibuka menguat terbatas 0,02% di posisi Rp17.915/US$. Namun tak lama berselang rupiah offshore itu kembali terpeleset 0,04% ke Rp17.927/US$.
Penguatan yang sempat terjadi pada harga minyak Brent mulai terpangkas pagi ini. Awalnya, Brent dibuka naik 0,22% ke US$104,94/barel, namun tak lama berbalik arah dan melemah 0,91% ke US$103,95/barel. Indeks dolar AS juga sedikit terpangkas ke 102,2.
Pergerakan minyak dan dolar AS itu berpotensi memberi sedikit ruang bagi rupiah dan sebagian mata uang kawasan untuk bertahan.
Dari Asia, sebagian mata uang di pasar yang sudah buka menunjukkan penguatan pada 07.30 WIB. Won Korea Selatan menguat paling tajam 0,41%, diikuti oleh yen Jepang, dolar Singapura, dan ringgit Malaysia yang lebih terbatas.
Meski begitu, penguatan di pasar valuta Asia belum cukup kuat untuk mengonfirmasi pembalikan tren pelemahan. Sebab, arah dolar AS masih akan dipengaruhi oleh ekspektasi kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed), terutama menjelang rilis data inflasi konsumen AS dan pernyataan para pejabat bank sentral pekan ini.
Konsensus memperkirakan inflasi tahunan AS berpotensi naik ke kisaran 3,6%-3,7%. Jika inflasi AS kembali melampaui perkiraan, ekspektasi suku bunga tinggi lebih lama akan kembali menguat, dan mendorong kenaikan yield di pasar obligasi pemerintah AS.
Ekspektasi inflasi itu mulai kembali menghangatkan pasar obligasi AS yang mengalami kenaikan yield di tenor 10 tahun sebesar 1,1 bps ke 5,23%.
Di sisi lain, sentimen geopolitik masih akan membayangi dan menjadi faktor dominan yang akan membatasi ruang penguatan rupiah. Eskalasi serangan kelompok Houthi terhadap Arab Saudi, termasuk ancaman terhadap jalur pelayaran strategis Bab el-Mandeb, meningkatkan risiko gangguan pasokan energi dan perdagangan global.
Namun, pernyataan Presiden AS, Donald Trump, yang mengklaim soal adanya kesepakatan gencatan senjata energi antara Rusia dan Ukraina sedikit meredakan guncangan harga minyak usai serangan kelompo Houthi.
Hal ini juga membuat kenaikan yield di pasar obligasi AS belum sepenuhnya berdampak pada pasar obligasi negara lainnya. Obligasi pemerintah Jepang relatif stabil di 3%, China di 1,67%, dan Korea Selatan 4,39%.
Dari dalam negeri, tantangan rupiah tak cuma berasal dari sisi eksternal. Kondisi daya beli dan persepsi risiko investor terhadap perekonomian menjadi salah satu sentimen yang membayangi laju penguatan rupiah.
Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) September turun menjadi 118,1 dari 118,5 pada Agustus. Memang, angka ini masih berada pada jalur optimis. Namun, jika ditelisik pada masing-masing kelompok pengeluaran, terlihat bahwa optimisme kelompok dengan pengeluaran rendah justru telah retak.
Pekan ini, pelaku pasar akan mencermati data penjualan kendaraan yang menjadi acuan daya beli masyarakat. Jika data penjualan kendaraan turun dan menggenapi pudarnya keyakinan konsumen, rupiah berpotensi kembali tertekan. Di sisi lain, pelaku pasar juga memperhatikan upaya strategis pemerintah dalam menangani bencana alam di Sumatera dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan.
Kedua bencana ini, serta bencana-bencana sebelumnya, tak cuma menjadi perhatian dan ujian bagi kredibilitas kebijakan pemerintah, tapi juga berpotensi menambah risiko fiskal, jika ternyata pemerintah perlu mengalokasikan anggaran tambagan untuk penanganan darurat.
Terlebih, penanganan karhutla di Kalimantan telah menjadi sorotan investor global dan tokoh internasional karena berkaitan dengan komitmen Indonesia terhadap keberlanjutan lingkungan, pengendalian emisi dan tata kelola sumber daya alam.
Apabila penanganan bencana dinilai lambat atau bahkan tidak menyentuh akar persoalan sama sekali, risiko reputasi dapat terus meningkat dan memengaruhi persepsi investor terhadap kualitas tata kelola dan konsistensi kebijakan.
Sehingga, pelemahan harga minyak dan indeks dolar pada awal perdagangan pagi ini belum cukup menjadi landasan bagi penguatan rupiah yang berkelanjutan. Pelaku pasar masih akan mencermati berbagai sentimen pemberat di pasar domestik, seperti daya beli yang akan memengaruhi capaian pertumbuhan di tahun ini, hingga penanganan bencana alam dan karhutla.
Bank Indonesia (BI) juga diperkirakan akan tetap melakukan intervensi di pasar untuk menjaga stabilitas rupiah. Pekan lalu, BI menjual Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) lebih banyak, sebesar Rp 30 triliun. Nilai yang dimenangkan itu naik dua kali lipat lebih besar daripada lelang sebelumnya (25/9/2026) yakni Rp15 triliun.
Besarnya angka yang dimenangkan disinyalir lantaran yield yang ditawarkan lebih murah dari lelang sebelumnya. Untuk tenor 6 bulan, yield penawaran turun dari 6,75% jadi 6,55%. Pada tenor 9 bulan, yield terkoreksi dari 6,78% jadi 6,52%, sedangkan tenor 12 bulan turun dari 6,86% jadi 6,68%.
Dengan mempertimbangan berbagai sentimen dan faktor yang ada, rupiah hari ini diperkirakan konsolidasi di rentang Rp17.850-Rp17.950/US$, merujuk penguatan rupiah yang sempat ke Rp17.883/US$ pada perdagangan akhir pekan kemarin.
Namun, sepertinya level Rp17.950-Rp18.000/US$ menjadi area yang perlu diwaspadai jika tekanan jual meningkat. Sedangkan, penguatan menuju Rp17.850/US$ masih akan membutuhkan dukungan sentimen eksternal yang lebih kondusif dan meningkatnya ekspektasi prospek pertumbuhan ekonomi dengan adanya dukungan perbaikan daya beli konsumen Tanah Air.
Sumber: www.bloombergtechnoz.com

