Sticky

FALSE

Page Nav

HIDE

GRID

GRID_STYLE

Hover

TRUE

Hover Effects

TRUE

Berita Terkini

latest

Ketika Pemerintah Hadir Menjemput Anak Putus Sekolah

 

PedomanBengkulu.com, Bengkulu-  Terik matahari Kota Bengkulu biasanya menjadi saksi bisu perjuangan Erwin. Di usianya yang masih belia, ia harus memanggul beban sebagai tulang punggung keluarga.

Hari-harinya dihabiskan di jalanan, menajakan kerupuk dari warung ke warung, lalu berganti memetik senar gitar, mengamen demi sekeping koin untuk ibunya yang seorang janda.

Sekolah, bagi Erwin, sempat menjadi kemewahan yang terpaksa ia kubur dalam-dalam. Namun, garis nasib Erwin mulai ditulis ulang pada Minggu, 20 September 2026. Bersama empat anak tangguh lainnya, ia melangkah masuk ke Sentra Dharma Guna dengan seragam yang kembali melekat di badan. Hari itu, mereka resmi mengikuti Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) untuk Tahun Ajaran 2026/2027.

Di ruangan yang sama, ada pula Ahmad Nur Affandi, anak seorang pemulung yang terbiasa berakrab dengan aroma sampah; Gebby, seorang anak yatim piatu yang sempat kehilangan arah serta Farel Riski dan Sabila yang langkah pendidikannya terhenti di bangku SMP akibat jerat kemiskinan.

Kelima anak ini adalah potret nyata dari misi kemanusiaan yang sedang digalakkan oleh Pemerintah Kota Bengkulu. Di bawah kepemimpinan Wali Kota Dedy Wahyudi dan Wakil Wali Kota Ronny PL Tobing, Pemkot Bengkulu menolak pasrah terhadap angka putus sekolah.

Melalui kolaborasi apik dengan UPT Direktorat Jenderal Rehabilitasi Sosial Kementerian Sosial, mereka bergerak menjemput anak-anak rentan ini langsung dari jalanan dan sudut-sudut kota yang terlupakan.

"Jangan sampai kemiskinan hari ini membuat anak-anak kita kehilangan masa depan. Pendidikan adalah salah satu jalan untuk memutus mata rantai kemiskinan. Karena itu, anak yang putus sekolah harus kita cari dan kita bantu untuk kembali belajar," tegas Kepala Dinas Sosial Kota Bengkulu, Afrijenita, yang hadir langsung mendampingi prosesi MPLS tersebut.

Bagi Afriyenita, isu anak putus sekolah bukanlah sekadar deretan angka statistik di atas kertas. Di balik tiap data, ada problem ekonomi yang kompleks, kerapuhan kondisi keluarga, dan lingkungan sosial yang tidak berpihak.

“Tugas kita bukan hanya mencatat siapa yang putus sekolah, tetapi memastikan mereka kembali mendapatkan hak untuk belajar. Jangan biarkan kondisi ekonomi hari ini menentukan masa depan mereka selamanya,” tambahnya, didampingi Sekretaris Dinsos Iryana serta tim pendamping sosial Kemensos, Yeyen Visiesha dan Puja Kusuma.

Melalui program SKB ini, Erwin, Ahmad, Gebby, Farel, dan Sabila diberi ruang untuk kembali beradaptasi dengan atmosfer belajar, memulihkan kepercayaan diri yang sempat luluh, dan merajut kembali cita-cita mereka.

Langkah kaki mereka memasuki ruang kelas adalah bukti nyata bahwa keterbatasan ekonomi boleh saja menunda impian, tetapi tidak bisa mematikannya. Hari ini, dari yang semula memegang kaleng ampaian dan karung pemulung, tangan-tangan mungkin itu kembali menggenggam pena dan membuka lembaran buku baru. Karena bagi mereka, putus sekolah bukanlah bab akhir, melainkan sebuah titik balik untuk memulai cerita yang jauh lebih indah.