Sticky

FALSE

Page Nav

HIDE

GRID

GRID_STYLE

Hover

TRUE

Hover Effects

TRUE

Berita Terkini

latest

Hashim: Indonesia Siapkan Program Nuklir Ambisius

 


PedomanBengkulu.com, JAKARTA -- Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi Hashim Djojohadikusumo mengungkapkan pemerintah Indonesia menyiapkan program nuklir yang ambisius sebagai salah satu pilar ketahanan energi nasional. Pemerintah bahkan telah memasukkan target kapasitas pembangkit listrik tenaga nuklir sebesar 7 gigawatt (GW) ke dalam rencana induk energi.

Hashim mengatakan program nuklir tersebut menjadi bagian dari agenda energi berkelanjutan Indonesia yang tengah disiapkan pemerintah. Pengembangan nuklir berjalan bersama sejumlah sumber energi lain, seperti tenaga surya, panas bumi, dan pembangkit listrik tenaga air.

"Pilar penting lainnya dari program energi kita adalah nuklir. Pemerintah Indonesia akan meluncurkan program nuklir yang sangat ambisius," kata adik kandung Presiden Prabowo Subianto ini International Indonesia Sustainability forum, di Jakarta, Selasa (6/10/2026).

Hashim menyebut informasi mengenai target kapasitas nuklir tersebut diperolehnya dari Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo. Menurut dia, target pembangkit nuklir sebesar 7 GW telah masuk dalam rencana induk energi Indonesia.

"Informasi terbaru yang saya dengar dari Pak Darmawan, jika tidak salah, target 7 gigawatt sudah masuk ke dalam rencana induk (master plan) energi kita," ujar dia.

Selain nuklir, Hashim mengatakan pemerintah menyiapkan kapasitas terpasang tenaga surya sebesar 100 GW sebagai bagian dari strategi energi hijau. Indonesia juga memiliki potensi energi berkelanjutan lain berupa panas bumi, sumber daya air, dan tenaga surya yang melimpah.

Ia pengembangan sumber energi tersebut berkaitan dengan upaya Indonesia membangun ketahanan energi. Pemerintah secara bertahap ingin mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil, tetapi tetap memastikan kebutuhan listrik masyarakat terpenuhi.

Menurut Hashim, Indonesia tidak ingin menghentikan industri batu bara secara tiba-tiba karena listrik tetap dibutuhkan masyarakat, termasuk untuk penerangan rumah, kegiatan belajar anak-anak, serta kebutuhan rumah sakit dan klinik di daerah.

Hasim juga menyoroti kerentanan Indonesia terhadap kondisi geopolitik global. Perang di Timur Tengah, menurut dia, semakin menunjukkan risiko ketergantungan terhadap sumber energi dari luar negeri sehingga pemerintah terus mendorong pengembangan bahan bakar nabati.

"Semua hal ini adalah bagian dari program tersebut, termasuk bahan bakar nabati (biofuel), yang mendapatkan dorongan urgensi ekstra akibat perang yang tengah berkecamuk di Timur Tengah saat ini," jelas Hashim.

Ia menegaskan program energi berkelanjutan Indonesia tidak hanya bertumpu pada satu sumber energi. Pemerintah menyiapkan kombinasi energi surya, nuklir, panas bumi, hidro, dan bahan bakar nabati untuk memperkuat ketahanan energi sekaligus memenuhi kebutuhan listrik nasional.

Konflik Timur Tengah Pertegas Kerentanan Ketahanan Energi Indonesia

Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menilai konflik Timur Tengah kembali mempertegas kerentanan ketahanan energi Indonesia. Kondisi tersebut terlihat dari tingginya ketergantungan tanah air terhadap pasokan bahan bakar dan minyak dari luar negeri ketika pasar energi global menghadapi gangguan.

Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Bakrie mengatakan ketahanan energi menjadi salah satu agenda penting di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Menurut dia, gangguan pada pasar energi global dapat dengan cepat memengaruhi harga minyak dan berdampak terhadap negara yang masih memiliki ketergantungan terhadap impor.

"Ketahanan energi sekali lagi menjadi pusat dari agenda global. Kali ini, konflik Timur Tengah baru-baru ini menjadi pengingat betapa rentannya pasar energi global saat ini," kata Anindya dalam pembukaan Indonesia International Sustainability Forum (ISF) 2026, di Jakarta, Selasa.

Ia menyebut gangguan tersebut tercermin pada kenaikan harga minyak dunia. Dia menyampaikan harga minyak pada 2026 melonjak dari sekitar 65 dolar AS per barel menjadi 110 dolar AS per barel.

Kondisi demikian, lanjut Anin, semakin berisiko bagi Indonesia karena konsumsi minyak nasional masih jauh lebih tinggi dibandingkan produksi domestik. Indonesia mengonsumsi sekitar 1,6 juta barel minyak per hari, sedangkan produksi dalam negeri hanya sekitar 600 ribu barel per hari.

Berkaca pada situasi tersebut, Indonesia menghadapi defisit sekitar 1 juta barel minyak per hari. Kesenjangan antara kebutuhan dan produksi domestik membuat Indonesia lebih rentan ketika harga energi global mengalami perubahan akibat gangguan geopolitik.

Anindya mengatakan Indonesia tetap memiliki ruang untuk memperkuat ketahanan energi melalui percepatan elektrifikasi, peningkatan skala energi terbarukan, serta pengurangan ketergantungan terhadap bahan bakar impor.

Menurut dia, penguatan kemandirian energi juga perlu menjadi bagian dari respons Indonesia menghadapi ketidakpastian global. Kadin mendorong pemerintah dan dunia usaha bekerja sama melalui konsep Indonesia Incorporated untuk memperkuat prioritas nasional sekaligus membuka peluang ekonomi baru.

Anindya menambahkan Kadin akan terus menghubungkan kepentingan dunia usaha Indonesia dengan mitra ekonomi global melalui Kadin Global Engagement Office. Upaya tersebut diarahkan untuk memperkuat kerja sama multilateral dan bilateral sekaligus membuka peluang investasi di sektor energi dan keberlanjutan.

"Pertama, kita perlu terus mempercepat transisi energi demi ketahanan energi," ujar Ketum Kadin Indonesia ini.

Anindya menyebut percepatan transisi energi menjadi salah satu dari lima prioritas utama Kadin dalam mendorong aksi iklim dan pertumbuhan berkelanjutan. Empat agenda lainnya yakni meningkatkan skala pasar karbon berintegritas tinggi, mendukung perusahaan Indonesia menuju net zero, memajukan ekonomi sirkular dan waste-to-energy, serta mempromosikan kehutanan berkelanjutan.

Sumber: ekonomi.republika.co.id