Konflik Timur Tengah Pertegas Kerentanan Ketahanan Energi Indonesia
Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menilai konflik Timur Tengah kembali mempertegas kerentanan ketahanan energi Indonesia. Kondisi tersebut terlihat dari tingginya ketergantungan tanah air terhadap pasokan bahan bakar dan minyak dari luar negeri ketika pasar energi global menghadapi gangguan.
Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Bakrie mengatakan ketahanan energi menjadi salah satu agenda penting di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Menurut dia, gangguan pada pasar energi global dapat dengan cepat memengaruhi harga minyak dan berdampak terhadap negara yang masih memiliki ketergantungan terhadap impor.
"Ketahanan energi sekali lagi menjadi pusat dari agenda global. Kali ini, konflik Timur Tengah baru-baru ini menjadi pengingat betapa rentannya pasar energi global saat ini," kata Anindya dalam pembukaan Indonesia International Sustainability Forum (ISF) 2026, di Jakarta, Selasa.
Ia menyebut gangguan tersebut tercermin pada kenaikan harga minyak dunia. Dia menyampaikan harga minyak pada 2026 melonjak dari sekitar 65 dolar AS per barel menjadi 110 dolar AS per barel.
Kondisi demikian, lanjut Anin, semakin berisiko bagi Indonesia karena konsumsi minyak nasional masih jauh lebih tinggi dibandingkan produksi domestik. Indonesia mengonsumsi sekitar 1,6 juta barel minyak per hari, sedangkan produksi dalam negeri hanya sekitar 600 ribu barel per hari.
Berkaca pada situasi tersebut, Indonesia menghadapi defisit sekitar 1 juta barel minyak per hari. Kesenjangan antara kebutuhan dan produksi domestik membuat Indonesia lebih rentan ketika harga energi global mengalami perubahan akibat gangguan geopolitik.
Anindya mengatakan Indonesia tetap memiliki ruang untuk memperkuat ketahanan energi melalui percepatan elektrifikasi, peningkatan skala energi terbarukan, serta pengurangan ketergantungan terhadap bahan bakar impor.
Menurut dia, penguatan kemandirian energi juga perlu menjadi bagian dari respons Indonesia menghadapi ketidakpastian global. Kadin mendorong pemerintah dan dunia usaha bekerja sama melalui konsep Indonesia Incorporated untuk memperkuat prioritas nasional sekaligus membuka peluang ekonomi baru.
Anindya menambahkan Kadin akan terus menghubungkan kepentingan dunia usaha Indonesia dengan mitra ekonomi global melalui Kadin Global Engagement Office. Upaya tersebut diarahkan untuk memperkuat kerja sama multilateral dan bilateral sekaligus membuka peluang investasi di sektor energi dan keberlanjutan.
"Pertama, kita perlu terus mempercepat transisi energi demi ketahanan energi," ujar Ketum Kadin Indonesia ini.
Anindya menyebut percepatan transisi energi menjadi salah satu dari lima prioritas utama Kadin dalam mendorong aksi iklim dan pertumbuhan berkelanjutan. Empat agenda lainnya yakni meningkatkan skala pasar karbon berintegritas tinggi, mendukung perusahaan Indonesia menuju net zero, memajukan ekonomi sirkular dan waste-to-energy, serta mempromosikan kehutanan berkelanjutan.
Sumber: ekonomi.republika.co.id
