PedomanBengkulu.com, Jakarta - Chief Analyst Doo Financial Futures Lukman Leong menilai penguatan nilai tukar rupiah secara berkelanjutan tidak cukup hanya mengandalkan intervensi Bank Indonesia (BI).
Menurutnya, hal yang paling utama untuk menopang penguatan rupiah yakni mencakup menjaga defisit transaksi berjalan, memperkuat ekspor bernilai tambah, menarik investasi asing langsung, serta meningkatkan kepercayaan investor terhadap kebijakan fiskal dan moneter.
"Intervensi BI tetap penting untuk meredam volatilitas, namun bukan untuk penguatan rupiah jangka panjang," kata Lukman kepada Bloomberg Technoz, dikutip Rabu (7/10/2026).
Menurut Lukman salah satu kebijakan yang paling efektif adalah memperkuat arus modal masuk, terutama melalui FDI, sekaligus memperbaiki neraca eksternal Indonesia.
Hal tersebut dapat dilakukan melalui pemberian insentif investasi, pengembangan hilirisasi yang mampu menghasilkan ekspor, serta menjaga kredibilitas kebijakan fiskal dan moneter.
"Saat ini tekanan rupiah juga masih besar dari tingginya yield AS dan harga minyak, sehingga perbaikan fundamental domestik menjadi semakin penting," terangnya.
Sebagai catatan saja, rupiah menutup perdagangan Selasa (6/10/2026) dengan penguatan terbatas 0,03% ke Rp17.901/US$. Penguatan rupiah ditopang oleh harga minyak mentah brent kembali terpangkas 0,68% ke posisi US$99,7/barel.
Sementara, di pasar surat utang global tekanan juga sedikit mereda dengan turunnya yield US Treasury tenor 10 tahun sebesar 2,3 bps ke 5,28%.
Sebelumnya, BI membeberkan tiga instrumen yang digunakan dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah yang belakangan kerap kali bergejolak bahkan menyentuh angka Rp18.000/US$.
"Secara operasional kita punya instrumen-instrumen untuk merespon. Di lain yang sifatnya kebijakan secara operasional, kami punya instrumen spot, kita punya instrumen DNDF[Domestic Non Deliverable Forward]," kata Direktur Eksekutif Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas, Erwin Gunawan Hutapea dalam Taklimat BI, Rabu (30/9/2026).
Erwin bilang bahwa dua instrumen tersebut akan difokuskan bagi pasar domestik. Sehingga, ketika terdapat kebutuhan stabilisasi yang sifatnya sangat segera tidak bisa ditunda yaitu BI akan merespons dengan instrumen spot.
"Tapi seandainya ada kebutuhan-kebutuhan itu yang bisa ditunda karena kebutuhannya tidak sifatnya spot ya kita respon dengan instrumen DNDF," kata Erwin.
Sehingga bagi pelaku pasar dengan kebutuhan pemenuhan kewajiban impor maupun pembayaran impor yang dapat ditunda, bisa dilakukan dengan DNDF. Hal ini menurut Erwin merupakan bagian untuk mendorong berkembangnya instrumen hedging.
Sementara, untuk pergerakan nilai tukar rupiah di pasar NDF [Non Deliverable Forward] yang berada di pasar luar negeri, Erwin mengatakan bahwa transaksi tersebut tetap berjalan ketika pasar domestik Indonesia ditutup.
Ia mencontohkan, apabila pasar domestik ditutup pada level tertentu, kemudian muncul sentimen global yang membuat nilai tukar dolar AS terhadap rupiah di pasar NDF bergerak tajam melewati level tersebut, kondisi itu dapat menjadi referensi bagi pelaku pasar domestik ketika perdagangan kembali dibuka keesokan harinya.
"Sehingga kami tetap beroperasi di tiga pasar itu," ujarnya.
Sumber: www.bloombergtechnoz.com
