Sticky

FALSE

Page Nav

HIDE

GRID

GRID_STYLE

Hover

TRUE

Hover Effects

TRUE

Berita Terkini

latest

Di Usia Senja, Mereka Tidak Boleh Merasa Sendiri

PedomanBengkulu.com, Bengkulu – Siang itu, Nenek Tukiyem (74) tetap menjalani aktivitasnya seperti biasa. Di usia yang tak lagi muda, warga Kelurahan Padang Jati tersebut masih mengandalkan keahliannya sebagai tukang urut untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Di balik senyum ramahnya, tersimpan perjuangan seorang lansia yang berusaha bertahan di tengah berbagai keterbatasan.

Belakangan, beban hidupnya bertambah ketika bantuan sosial yang selama ini menjadi salah satu penopang kebutuhan sehari-hari terhenti akibat kendala administrasi kependudukan. Kondisi tersebut tentu menjadi tantangan tersendiri bagi seorang lansia yang masih harus bekerja untuk mencukupi kebutuhan hidupnya.

Kabar mengenai kondisi Nenek Tukiyem segera mendapat perhatian dari Pemerintah Kota Bengkulu melalui Dinas Sosial. Pendampingan pun dilakukan agar permasalahan yang dihadapi dapat segera ditangani dan hak-hak sosial yang bersangkutan tetap terpenuhi dan langkah konkrit yg dilakukan oleh Dinas Sosial Kota Bengkulu memastikan nenek Tukiyem kembali diusulkan sebagai penerima bansos Kemensos. 

Bagi Dinas Sosial, persoalan yang dialami Nenek Tukiyem bukan hanya tentang bantuan yang terhenti. Lebih dari itu, ini adalah tentang memastikan bahwa para lansia tetap mendapatkan perhatian, perlindungan, dan penghormatan yang layak di masa senja mereka.

Kepala Dinas Sosial Kota Bengkulu, Afriyenita, mengatakan bahwa kehadiran pemerintah harus dapat dirasakan oleh seluruh masyarakat, terutama kelompok rentan seperti lansia.

"Kami ingin memastikan para lansia di Kota Bengkulu tidak merasa sendiri. Pemerintah hadir bukan hanya untuk memberikan bantuan, tetapi juga memberikan pendampingan agar mereka tetap aktif, bahagia, dan dihargai di tengah masyarakat," ujarnya.

Seiring bertambahnya usia, berbagai tantangan kerap menghampiri para lansia. Kondisi kesehatan yang menurun, keterbatasan fisik, hingga berkurangnya interaksi sosial dapat memengaruhi kualitas hidup mereka. Tidak sedikit lansia yang membutuhkan perhatian lebih, bukan hanya dalam bentuk bantuan material, tetapi juga dukungan emosional dan rasa kepedulian dari lingkungan sekitar.

Karena itu, saat menyerahkan bantuan paket sembako kepada Nenek Tukiyem, Dinas Sosial ingin menyampaikan pesan yang lebih besar: bahwa tidak ada lansia yang boleh merasa ditinggalkan.

"Usia senja adalah fase kehidupan yang penuh pengalaman dan kebijaksanaan. Di balik rambut yang memutih dan langkah yang mulai melambat, tersimpan jasa besar mereka yang telah membesarkan dan membimbing generasi penerus. Karena itu, sudah sepatutnya kita terus menunjukkan perhatian dan kasih sayang kepada para lansia," kata Afriyenita.

Menurutnya, membangun kesejahteraan lansia bukan hanya tugas pemerintah. Keluarga, tetangga, komunitas, dan masyarakat luas memiliki peran yang sama pentingnya dalam menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman bagi para orang tua.

Atas dasar itulah, Dinas Sosial terus mengedepankan edukasi kepada masyarakat mengenai hak-hak lansia dan pentingnya mencegah penelantaran. Melalui publikasi, sosialisasi, dan kerja sama dengan berbagai pihak, diharapkan tumbuh kesadaran kolektif bahwa merawat dan menghormati lansia merupakan tanggung jawab bersama.

"Peran Dinas Sosial tidak hanya memberikan pelayanan, tetapi juga meningkatkan pemahaman masyarakat tentang pentingnya melindungi dan menghormati lansia. Kami ingin memperkuat kepedulian sosial agar para lansia dapat hidup lebih sejahtera dan bermartabat," pungkasnya.

Kisah Nenek Tukiyem mungkin hanya satu dari sekian banyak cerita tentang perjuangan lansia di Kota Bengkulu. Namun dari kisah sederhana itu, tersimpan pelajaran penting bahwa perhatian kecil dapat menghadirkan harapan besar.

Sebab pada akhirnya, kesejahteraan lansia tidak hanya diukur dari bantuan yang diterima, tetapi juga dari seberapa besar mereka merasa dicintai, dihargai, dan tidak pernah ditinggalkan oleh masyarakat di sekeliling kita.