Anggota PPUU DPD RI Hj Leni Haryati John Latief mengatakan, bahasa daerah bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga wadah nilai, sejarah, dan cara pandang masyarakat yang membentuk jati diri bangsa.
"Alhamdulillah Bengkulu masuk dalam sepuluh besar daerah dengan penggunaan bahasa daerah terkuat di Indonesia. Tapi meski Bahasa Melayu Bengkulu masih berada pada kategori aman, tapi Bahasa Rejang mulai menunjukkan tanda-tanda kerentanan. Anak-anak muda kini cenderung beralih ke bahasa global," kata Hj Leni Haryati John Latief, Selasa (14/4/2026).
Lulusan Magister Administrasi Publik Universitas Bengkulu ini menjelaskan, lebih mengkhawatirkan lagi adalah kondisi Bahasa Enggano yang kini berada pada status sangat terancam punah, dengan jumlah penutur yang terus menyusut secara signifikan.
"Fakta ini menunjukkan bahwa kekuatan statistik tidak selalu berbanding lurus dengan keberlanjutan nyata. Tanpa intervensi serius, bahasa yang hari ini masih terdengar bisa saja esok hanya tersisa dalam catatan akademik," ujar Hj Leni Haryati John Latief.
Mantan Ketua Dewan Pengurus Daerah (DPD) Kaukus Perempuan Politik Indonesia (KPPI) Provinsi Bengkulu ini menekankan, upaya pelestarian yang dilakukan pemerintah daerah dalam menghidupkan kembali penggunaan bahasa ibu, terutama di lingkungan pendidikan dan ruang publik patut diapresiasi.
"Tapi tetap saja DPD RI memandang perlu payung hukum yang kuat agar upaya yang dilakukan pemerintah tidak bersifat sporadis dan temporer. Di sinilah urgensi RUU Bahasa Daerah menjadi krusial. Regulasi ini diharapkan mampu menghadirkan kebijakan yang sistematis, berkelanjutan, dan terintegrasi antara pusat dan daerah," ungkap Hj Leni Haryati John Latief.
Pembina Forum Melayu Rembuk Bengkulu ini menambahkan, sejatinya pelestarian bahasa daerah bukan sekadar tanggung jawab pemerintah, melainkan tanggung jawab seluruh elemen bangsa.
"Legislasi hanyalah fondasi. Keberhasilan sejati terletak pada kemauan masyarakat untuk terus menggunakan, mewariskan, dan memuliakan bahasa ibu mereka. Perlu disadari bahwa ketika kita kehilangan sebuah bahasa, yang ikut hilang bukan hanya kata-kata, tetapi juga cara sebuah peradaban memahami dunia," tutup Hj Leni Haryati John Latief. [**]
