PedomanBengkulu.com, Jakarta – Industri perfilman Indonesia tengah menikmati masa keemasan. Angka penonton nasional yang menembus 80,27 juta pada 2025 menjadi bukti bahwa film bukan sekadar hiburan, melainkan kekuatan ekonomi dan budaya yang semakin diperhitungkan. Bahkan, capaian pada 2024 ketika film nasional berhasil melampaui dominasi film impor menjadi tonggak penting kebangkitan perfilman Tanah Air.
Namun, euforia ini tidak sepenuhnya terasa merata. Di daerah, geliat tersebut justru menyisakan ironi: tingginya konsumsi belum berbanding lurus dengan kapasitas produksi.
Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia, Hj Leni Haryati John Latief, mengatakan, akses masyarakat Bengkulu terhadap film layar lebar masih bergantung pada jaringan bioskop komersial seperti Cinema XXI Bencoolen Mall dan 21 Mega Mall.
"Di sisi lain, film lokal independen kerap tersingkir lebih cepat oleh arus film blockbuster. Akibatnya, ruang apresiasi bagi karya lokal menjadi sempit," kata Hj Leni Haryati John Latief di tengah peringatan Hari Film Nasional, Senin (30/3/2026).
Lulusan Magister Administrasi Publik Universitas Bengkulu ini menjelaskan, harapan tumbuh di Bumi Merah Putih melalui lahirnya berbagai komunitas kreatif menunjukkan adanya energi baru dari generasi muda. Menurutnya, kolaborasi dengan lembaga seperti dalam produksi film bertema sejarah menjadi sinyal positif bahwa Bengkulu memiliki cerita kuat untuk diangkat ke layar.
"Persoalan utamanya terletak pada minimnya infrastruktur dan kebijakan. Ketiadaan sekolah akting, festival film yang berkelanjutan, hingga belum adanya positioning Bengkulu sebagai pusat produksi membuat potensi tersebut belum terwadahi secara optimal," tutur Hj Leni Haryati John Latief.
Pembina Bundo Kanduang Provinsi Bengkulu ini menekankan pentingnya kolaborasi berbagai elemen untuk menyiapkan ruang pemutaran alternatif, penyelenggaraan festival film regional, serta penguatan narasi lokal berbasis sejarah dan budaya dalam rangka mendorong kebangkitan perfilman di Bumi Merah Putih.
"Di era digital, pemanfaatan platform daring juga menjadi kunci agar karya sineas Bengkulu tidak hanya berhenti di lokal, tetapi mampu menembus pasar global," tandas Hj Leni Haryati John Latief.
Mantan Ketua Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia Provinsi Bengkulu ini menambahkan, tanpa intervensi nyata, Bengkulu akan mengalami kesulitan untuk menembus panggung besar perfilman nasional.
"Tapi dengan langkah yang tepat, Bengkulu berpeluang menjadi pusat cerita baru yang otentik dan berdaya saing," demikian tutup Hj Leni Haryati John Latief penuh harap. [**]
